Mataram (Inside Lombok) – Provinsi NTB, khususnya Kabupaten Bima, dikenal sebagai salah satu sentra produksi garam. Potensi alam yang melimpah, didukung oleh inovasi teknologi, seharusnya menjadi jaminan kesejahteraan bagi para petambak garam. Sayangnya, fakta di lapangan para petambak masih kesulitan untuk pemasarannya dan hanya terbatas di dalam daerah saja.
Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, Lina Jasin menyoroti permasalahan klasik namun krusial, yakni pemasaran yang tidak berpihak kepada petani. Baik itu kualitasnya bagus atau tidak, harga jualnya masih tetap sama. Sehingga upaya meningkatkan kualitas garam berujung pada kekecewaan, lantaran tidak adanya pemasaran.
“Pemasaran masih susah, jalur pemasarannya ini tidak ada yang memfasilitasi. Kalau kami di kelautan hanya sampai batas memproduksinya saja,” ujarnya, Jumat (13/6). Meskipun ada perbedaan kualitas yang seharusnya mempengaruhi harga, mekanisme pasar yang belum matang membuat kerja keras petani untuk menghasilkan garam berkualitas tinggi seringkali tidak dihargai secara adil.
Situasi harga garam di tingkat petani saat ini masih sangat rendah. Meskipun ada masa di mana harga sempat melonjak tinggi dan memberikan napas lega bagi petani, fluktuasi yang tidak stabil membuat mereka sulit merencanakan masa depan. “Untuk harganya beda-beda, tergantung kondisi di lapangan, masih rendah sekarang. Waktu itu sempat harganya tinggi, lumayan petani itu dapat (keuntungan, Red),” terangnya.
Mayoritas hasil panen garam di NTB pun hanya mampu dipasarkan secara lokal, di dalam daerah saja. Lebih menyedihkan lagi, seringkali ada pembeli dari luar daerah, seperti Kalimantan atau Jawa Timur, yang langsung datang untuk mengambil garam dari petambak. Garam mentah ini kemudian diolah lebih lanjut di daerah pembeli, hingga akhirnya dipasarkan dengan merek dagang mereka sendiri. “Bisa saja kita olah di sini langsung, makanya sekarang komitmen kita seperti apa,” ucapnya.
Menurutnya, komitmen dan dukungan lintas sektoral menjadi kunci untuk mewujudkan mimpi ini. Selama ini, DKP NTB telah proaktif dalam mendukung petani garam melalui berbagai program pendampingan. Bantuan fasilitas, perlengkapan geomembran untuk meningkatkan kualitas produksi, hingga pembangunan gudang penyimpanan telah digulirkan. “Kita hanya terkendala pasar. Semua hasil garam bisa saja (diolah menjadi produk bernilai tambah), hanya saja bisa tidak menyerapnya, nanti kelebihan susah juga kita,” ungkapnya.
Apalagi di Bima sudah ada pabrik garam, jika hasil pengelolaan dari petambak bagus maka bisa diserap oleh pabrik untuk peningkatan kualitasnya. Sehingga garam mentah tidak dikirim lagi, tetapi yang dikirim garam olahan dan tentunya ini memberikan nilai jual tinggi bagi petambak garam di NTB. “Semua hasil garam bisa saja (ditingkatkan kualitasnya, Red). Hanya saja, bisa tidak menyerapnya, nanti kelebihan (serapan) susah juga kita,” bebernya.
Meskipun demikian, secercah harapan muncul dengan adanya pabrik garam di Bima. Jika pabrik tersebut dikelola dengan baik, nantinya hasil panen dari para petambak lokal dapat disalurkan atau diserap sepenuhnya oleh pabrik tersebut. Ini akan menjadi langkah signifikan dalam peningkatan kualitas dan daya serap pasar, serta dapat menstabilkan harga di tingkat petani. NTB bahkan telah menunjukkan bahwa inovasi di sektor garam bukanlah hal mustahil. “Teknologi kita juga sudah bagus, di Lobar (Lombok Barat) sudah ada garam spa. Masukkan ke hotel-hotel, itu nilainya cukup tinggi dan lumayan,” demikian. (dpi)

