Mataram (Inside Lombok) – Dinas Perindustrian Provinsi NTB terus berupaya memperkuat daya saing industri tenun lokal serta mendorong inovasi berbasis kearifan budaya. Salah satunya dengan memberikan pelatihan kepada sejumlah perajin dan pelaku IKM tenun lokal di Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah.
Kadisperin NTB, Nuryanti mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari skema pemberdayaan berkelanjutan untuk IKM tenun. Para peserta mendapatkan pembelajaran intensif dari instruktur profesional mengenai teknik tenun ikat tradisional, pembuatan pola, pewarnaan alami, hingga praktik menenun menggunakan alat tenun gedogan
“Kami ingin para penenun tidak hanya terampil dalam teknik, tetapi juga kreatif dalam desain dan mampu membaca arah pasar. Inovasi berbasis budaya adalah kunci agar tenun kita tak hanya lestari, tapi juga mendunia,” ujarnya.
kegiatan ini dirancang untuk memperkaya keterampilan teknis penenun sekaligus memperluas wawasan mereka terhadap inovasi desain. Pelatihan ini juga menjadi momen penting untuk mempersiapkan IKM dalam menjawab tantangan modernisasi industri berbasis warisan budaya.
“Pada hari kedua pelatihan, peserta mulai mengimplementasikan ilmu yang diberikan dengan praktek langsung membuat pola desain dan pewarnaan benang menggunakan teknik ikat, yang menjadi ciri khas tenun ikat,” terangnya.
Lebih lanjut, tahapan ini membuka pemahaman baru bagi peserta bahwa nilai estetika kain dimulai dari proses desain benang sebelum menenun. Dalam hal ini, dibutuhkan proses dan dukungan semua pihak.
“Dan juga butuh effort yang kuat terutama masyarakat di bawah bimbingan Kepala Desa dan PKK Desa serta Karang Taruna Desa menjadi sebuah ekosistem untuk eksistensinya arisan penenun dengan kualitas yang lebih baik,” imbuhnya.
Pada kegiatan pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu mendapatkan dukungan dari Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, yakni mendorong para peserta untuk mulai berinovasi dengan memproduksi kain tenun berukuran lebar 1 meter, tekstur kain lebih tipis dan halus, serta penggunaan pewarna alami, yang dinilai akan membuka lebih banyak peluang pasar serta meningkatkan nilai ekonomi produk tenun lokal. “Sekarang saatnya naik kelas. Kain tenun lebar satu meter bukan hanya meningkatkan nilai jual, tapi juga memperkuat posisi tenun NTB di pasar nasional dan global,” ujar Sinta. (dpi)

