Mataram (Inside Lombok)– Upaya Bank Indonesia (BI) NTB untuk menggenjot penggunaam Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus dilakukan, bahkan merambah hingga ke pelosok desa. Namun masih menghadapi sejumlah tantangan. Digitalisasi pembayaran, yang diharapkan mampu mendorong inklusi keuangan dan ekonomi hingga ke desa-desa, namun masih terkendala oleh infrastruktur telekomunikasi dan tingkat pendapatan masyarakat.
Kepala Perwakilan BI NTB, Berry Arifsyah Harahap, menjelaskan bahwa peta jalan digitalisasi di NTB sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur yang mendukung. Pasalnya, beberapa titik di NTB masih lemah sinyal, terutama wilayah Sumbawa. Hal ini yang membuat sedikit susah pengunaan QRIS di desa kemudian terkait dengan ketersedian listrik. Dua aspek krusial yang masih menjadi hambatan di banyak daerah.
“Masih banyak wilayah yang masuk kategori blank spot. Ini sudah kejadian yang umum di Indonesia timur, terutama membangun telekomunikasi itu tidak semudah kita pikirkan,” ungkapnya.
Bahkan, ada daerah yang saking terpencilnya hingga satu-satunya solusi adalah menyediakan jaringan internet khusus untuk transaksi digital. Hal ini lah menjadi PR pemerintah, bagaimana menyediakan layanan komunikasi.
Begitu juga dengan swasta agar dapat memperluas layanan komunikasi mereka. Selain infrastruktur, faktor penghasilan masyarakat juga memegang peranan penting dalam adopsi digitalisasi.
“Kita juga harus liat, masyarakat dengan penghasilan bulanan yang stabil cenderung lebih banyak mengakses layanan perbankan. Sebaliknya, kelompok masyarakat dengan penghasilan tidak tetap, mungkin enggan menggunakan layanan perbankan karena pola konsumsi mereka yang pendek,” jelasnya.
Untuk itu, biasanya tingkat adopsi digitalisasi sangat tergantung sama kesejahteraan. Ini menunjukkan bahwa upaya mendorong digitalisasi pembayaran harus diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
“Jadi bagaimana kita mendorong, pertama mendorong penghasilan masyarakat desa lebih meningkat, kedua fasilitas telekomunikasi tersedia, ini yang bisa kita lakukan dan kita banyak melakukan sosialisasi,” demikian. (dpi)

