Lombok Timur (Inside Lombok) – Keceriaan siswa-siswi SDN 1 Semaya, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, tampak seperti biasa saat pagi hari. Langit cerah dan udara sejuk menghiasi suasana sekolah. Namun di balik tawa riang mereka, tersimpan kekhawatiran mendalam. Salah satu ruang kelas di sekolah tersebut berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Atap bangunan tampak nyaris runtuh akibat kayu penopang yang sudah lapuk dimakan usia.
“Bangunan ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan sekarang kondisinya sangat membahayakan. Saya khawatir sewaktu-waktu bisa roboh dan menimpa siswa,” ujar Kepala Sekolah SDN 1 Semaya, L. Merep Abdul Malik, saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurut Malik, kondisi ini sudah lama dilaporkan ke instansi terkait. Bahkan pihak dinas pernah berjanji akan segera melakukan perbaikan setelah meninjau langsung ke lokasi. Namun hingga kini, janji tersebut belum juga terealisasi.
“Sudah pernah saya laporkan. Mereka bilang akan segera diperbaiki, dan bahkan sudah ada kunjungan dari pihak terkait. Tapi sampai sekarang belum ada kepastian apa-apa,” keluhnya.
Karena kondisi ruang kelas yang sangat membahayakan, pihak sekolah memutuskan untuk tidak menggunakannya dalam proses belajar mengajar tahun ajaran ini. Para siswa dipindahkan ke ruang lain yang kondisinya seadanya. “Sebelumnya memang ada program rehabilitasi, tapi yang diperbaiki hanya dua ruang kelas. Sedangkan yang satu ini—yang paling rusak tidak tersentuh sama sekali,” jelasnya.
Saat ini, SDN 1 Semaya menampung lebih dari 180 siswa. Meski dengan keterbatasan fasilitas, banyak di antara mereka yang menorehkan prestasi membanggakan, terbukti dari deretan piala yang menghiasi ruang kepala sekolah.
Malik berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki ruang kelas tersebut demi keselamatan dan kenyamanan siswa dalam belajar. “Kami hanya ingin kepastian. Jangan sampai ada korban dulu baru bertindak,” pungkasnya. (den)

