Lombok Utara (Inside Lombok) – Minat baca di wilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU) tercatat masih rendah. Ada beberapa faktor mendasari, salah satunya ketersedian bahan baca kurang.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU, Mochammad Wahyu Dharmawan menerangkan beberapa faktor yang melatarbelakangi rendahnya tingkat membaca ini, antara lain terkait budaya membaca yang belum tertanam sejak dini. Kemudian ketersediaan bahan bacaan yang masih terbatas menjadi kendala serius. Baik buku fisik maupun ebook, akses terhadap sumber pengetahuan ini masih perlu ditingkatkan.
Kondisi ekonomi menurutnya juga turut memainkan peran. Masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik cenderung memiliki waktu luang yang lebih banyak untuk membaca, berbeda dengan mereka yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehingga waktu mereka habis untuk bekerja.
“Di Lombok Utara, angka minat baca serius dua jam sehari masih sangat minim, mungkin hanya 3 dari 100 orang. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Lombok Utara, melainkan juga cerminan kondisi literasi di seluruh NTB,” ujar Wahyu, Rabu (23/7).
Pihaknya pun mengaku tidak tinggal diam melihat kondisi seperti ini. Berbagai upaya telah dan terus dilakukan untuk menumbuhkan budaya baca, khususnya di kalangan anak-anak dan generasi muda. Selain itu, disediakan juga bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan tingkat pendidikan.
Peningkatan sarana dan prasarana juga menjadi prioritas, baik di perpustakaan daerah maupun di desa-desa, termasuk pengembangan pojok digital. “Sayangnya, tidak semua desa di Lombok Utara memiliki perpustakaan desa. Terlebih lagi, pascagempa 2018, banyak desa yang belum kembali membangun perpustakaannya. Dari 43 desa, baru sekitar 7 desa yang beroperasi secara optimal,” terangnya.
Sedangkan, sisanya, ada yang memiliki gedung perpustakaan namun tanpa petugas pengelola, dan sebagian besar bahkan belum memiliki perpustakaan sama sekali. Untuk mengatasi keterbatasan ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mengandalkan dua unit perpustakaan keliling yang dioptimalkan untuk melayani sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan. “Kami juga mendapat banyak dukungan dari para pegiat literasi dan taman baca masyarakat. Mereka adalah relawan yang secara sukarela berkontribusi di lapangan untuk ikut serta mendorong minat baca anak maupun masyarakat,” bebernya.
Sebagai pemerintah daerah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berkomitmen untuk mendukung penuh inisiatif mereka di masa mendatang. Harapan besar juga disematkan kepada Bupati dan Wakil Bupati agar dapat memberikan dukungan maksimal kepada perpustakaan daerah. Meskipun NTB secara keseluruhan masih berada dalam kategori tiga dalam peringkat literasi nasional, yang menandakan tingkat literasi yang masih sangat kurang, Lombok Utara tidak berniat pesimis. “Dengan segala tantangan yang ada, kami tetap optimis untuk terus berjuang meningkatkan minat baca masyarakat,” demikian. (dpi)

