Lombok Utara (Inside Lombok) – Perkawinan anak di Lombok Utara masih menjadi antesi semua pihak, termasuk Gabungan Organisasi Wanita (GOW) KLU. Pasalnya perkawinan anak terbilang masih banyak ditemui, padahal seharusnya mereka bisa menikmati masa muda dan menempuh pendidikan lebih tinggi.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Lombok Utara, RR. Pungky Handini menegaskan pentingnya peran kader Posyandu sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan perkawinan anak dan edukasi kesehatan reproduksi remaja. Saat ini isu perkawinan anak jauh melampaui sekadar masalah usia. Ini adalah persoalan yang menyentuh inti masa depan generasi, kualitas pendidikan, kesehatan, serta stabilitas sosial dan ekonomi keluarga.
“Kita tidak bisa menutup mata, bahwa praktik perkawinan anak memperbesar risiko kematian ibu dan bayi, meningkatkan angka putus sekolah, dan membuka peluang kekerasan dalam rumah tangga,” ujarnya, Senin (28/7).
Lebih lanjut, perlu digaris bawahi terkait dengan dampak serius dari fenomena ini. Ia juga menyoroti urgensi untuk membangun layanan Posyandu yang inklusif dan ramah remaja. Ini berarti kader Posyandu tidak hanya bertindak sebagai penyampai informasi, melainkan harus bertransformasi menjadi agen perubahan yang proaktif.
“Kami berharap mereka mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk menunda pernikahan hingga usia yang matang, di mana individu benar-benar siap secara fisik, mental, dan sosial. Sehingga menciptakan generasi yang lebih kuat dan resilient,” terangnya.
Diyakani dengan kolaborasi dan sinergi aktif antara kader, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat. Maka bisa mewujudkan generasi muda Lombok Utara yang sehat, cerdas, dan terlindungi hak-haknya. Namun seluruh elemen masyarakat bergerak bersama.
“Penguatan kapasitas kader Posyandu ini bukan hanya sekadar pelatihan biasa. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Lombok Utara, memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan mendukung,” demikian. (dpi)

