Mataram (Inside Lombok) – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Mataram merendam 110 hektare lahan pertanian. Kondisi ini menyebabkan kerugian bagi para petani dan terancam gagal panen.
Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Irwan Harimansyah mengatakan kerusakan lahan pertanian akibat banjir ini tidak dapat diganti rugi oleh Pemerintah Kota Mataram. Pasalnya tidak ada alokasi anggaran yang digunakan untuk mengganti rugi pertanian warga. “Kami tidak memiliki alokasi anggaran untuk penggantian kerugian akibat bencana,” katanya.
Ia mengatakan, sebelum bencana para petani sudah dianjurkan untuk mengikuti asuransi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Karena jika petani mengikuti asuransi maka lahan pertanian yang gagal panen bisa diganti. “Oleh karena itu, sejak awal kami selalu menganjurkan para petani untuk mengikuti program asuransi pertanian,” katanya.
Irwan menegaskan, program (AUTP) yang dikelola oleh Asuransi Jasindo. Program ini merupakan bentuk perlindungan yang disediakan untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat bencana alam, serangan hama, dan penyakit tanaman.
Ia mengatakan, jumlah petani yang sudah terdaftar asuransi masih sangat rendah. Pasalnya, kesadaran para petani masih sangat kurang untuk mengikuti program ini. “Padahal dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi, risiko gagal panen semakin tinggi,” ungkapnya.
Di Kelurahan Mandalika, total lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai 53,85 hektare, yang seluruhnya disebabkan oleh jebolnya saluran irigasi. Di Kelurahan Dasan Cermen, banjir merendam sekitar 23,20 hektare sawah. Sedangkan Kelurahan Bertais melaporkan kerusakan pada 1 hektare lahan dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp10 juta.
Pada saat kejadian, usia tanaman padi baru mencapai 7 hari setelah tanam (HST). “Seluruh wilayah terdampak telah kami data, dan laporan dari penyuluh di lapangan sudah kami terima,” tutur Irwan.
Terkait potensi penurunan produksi pangan akibat gagal panen, Irwan menyatakan hingga saat ini pihaknya belum memperoleh laporan resmi. “Inilah pentingnya asuransi pertanian sebagai bentuk mitigasi,” ujarnya. (azm)

