Lombok Utara (Inside Lombok) – Semangat melestarikan dan mengembangkan olahraga tradisional di Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus diupayakan. Salah satunya menghidupkan kembali dan mempopulerkan permainan gasing. Pasalnya, gasing bukan hanya sekadar permainan, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat.
Ketua Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) KLKU, Kusmalahadi Syamsuri berkomitmen untuk memastikan warisan budaya ini tetap eksis dan bahkan mampu bersaing di kancah nasional. Dalam upaya mewujudkan ambisi ini, pihaknya tengah menjalin koordinasi erat dengan KORMI Provinsi NTB. Di mana fokus utama adalah membentuk Federasi Olahraga Rekreasi Tradisional Indonesia (FORTRINA) di tingkat kabupaten.
FORTRINA sendiri adalah Induk Organisasi (Inorga) di bawah KORMI yang menaungi berbagai jenis olahraga rekreasi tradisional, bukan hanya satu jenis saja.”Kami mau coba nanti KLU itu kita mau buat paguyubannya dulu baru masuk ke FORTINA,” ujarnya, Selasa (29/7).
Langkah ini dinilai krusial untuk mengumpulkan dan mengorganisasi para pegiat olahraga tradisional, khususnya gasing di seluruh KLU. Setelah paguyuban terbentuk kuat, barulah pendaftaran ke KORMI dapat dilakukan, termasuk pengajuan rekomendasi dari provinsi dan penerbitan Surat Keputusan (SK) di tingkat kabupaten. “Kita buat di sini (FORTINA, Red), keluarkan SK, proses tidak lama. Cuma kita mau buat FORTINA ini pegiatnya harus ada, jangan sampai tidak ada,,” tuturnya.
Diakui, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan adanya pegiat yang terorganisir, karena pentingnya keterlibatan aktif dari para pencinta gasing. Untungnya, minat terhadap gasing di KLU sangat tinggi. “Banyak peminatnya, kita punya dari ujung ke ujung wilayah Lombok Utara, ada ratusan pegiatnya,” katanya.
Antusiasme masyarakat disebut sangat tinggi. Hal itu terlihat dari gelaran gasing Bang Kus Cup yang berhasil menarik 40 pegiat untuk berpartisipasi. Kegiatan ini menjadi contoh konkret bahwa olahraga tradisional masih memiliki ruang dan peminat yang besar di tengah masyarakat. Meskipun sempat terjadi perdebatan mengenai aturan main dan jenis gasing yang bervariasi antar wilayah. “Makanya kita mau buat paguyuban dulu, terus kita daftarkan jadi Inorga, nanti tinggal kita koordinasi dengan kawan-kawan di provinsi,” jelasnya.
Sementara itu, KORMI akan menjadi rumah bagi semua olahraga tradisional yang tidak dinaungi oleh KONI. Tujuannya bukan hanya untuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda. “Kami ingin olahraga-olahraga warisan budaya ini tetap hidup, terlestarikan, dan punya ruang untuk berkembang,” imbuhnya.
Dengan langkah-langkah strategis ini, KORMI Lombok Utara berharap dapat melahirkan talenta-talenta baru di bidang olahraga tradisional, serta menjaga agar kekayaan budaya tak benda ini tetap hidup dan diminati oleh generasi mendatang. (dpi)

