Mataram (Inside Lombok) – Potensi ekonomi NTB baik di pulau Lombok maupun Sumbawa begitu melimpah, namun masih banyak yang belum tergarap secara maksimal. Dalam hal ini pentingnya strategi hilirisasi dan orientasi ekspor sebagai kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB, Berry Arifsyah Harahap, mengatakan potensi ekonomi khususnya wilayah seperti Sumbawa, memiliki peluang besar untuk mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Strategi ini akan membawa produk lokal ke pasar global dan memberikan keuntungan yang lebih besar. “Kita ekspor ke luar negeri itu sudah dalam bentuk tidak raw (mentah) lagi, tapi sudah ada pengolahan di sini. Misalnya rumput laut, itu bisa diolah baru dikirim,” ujarnya, Senin (11/8).
Lebih lanjut, ada kemiri yang juga memiliki potensi besar jika diolah menjadi produk jadi yang siap dipasarkan ke luar negeri. Kemudian, vanili juga disebutnya sebagai salah satu komoditas yang bisa mendunia jika dikelola dengan baik. Sedangkan, untuk komoditas perikanan seperti ikan tuna. Tidak semua produk cocok untuk hilirisasi. “Ikan ini agak spesifik, ada ikan dalam bentuk segarnya jauh lebih mahal daripada untuk hilirisasinya. Contoh ikan tuna, itu lebih baik yang segar daripada dikalengin. Kalau dikalengin itu sudah harga pasar, bukan premium lagi,” ungkapnya.
Selain hilirisasi, sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai pilar utama ekonomi NTB. Meskipun Indonesia memiliki tantangan dalam hal penguasaan lahan yang terbatas, BI NTB optimistis bahwa sektor pertanian tetap bisa menjadi sumber kesejahteraan. “Kuncinya adalah dengan menggunakan bibit unggul dan tersertifikasi. Kita akan cari bibit apa yang harganya mahal, yang mempunyai nilai tambah tinggi, contoh vanili, kemiri juga oke, manggis juga boleh itu bisa diekspor,” terangnya.
Menurutnya, memilih pasar ekspor adalah langkah strategis, karena harga jual di luar negeri jauh lebih tinggi daripada di dalam negeri. Seperti contoh buah mangga harga jual di Eropa atau Australia bisa dihargai hingga 5 dollar per buah. Jika saja buah mangga dari pulau Sumbawa bisa dikembangkan dan diekspor, maka nilai jualnya cukup tinggi. “Itulah pentingnya bibit yang tersertifikasi dan baik untuk mengembangkan pertanian. Harus fokus pada hilirisasi dan ekspor, kita di NTB bisa mengoptimalkan potensi alamnya dan menciptakan masa depan yang lebih sejahtera bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya. (dpi)

