31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaMataramLonjakan Harga Jagung Mengancam Peternak Unggas NTB, Pemerintah Diminta Segera Intervensi

Lonjakan Harga Jagung Mengancam Peternak Unggas NTB, Pemerintah Diminta Segera Intervensi

Mataram (Inside Lombok) – Harga jagung belakangan ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi mendekati Rp6.500 per kilogramnya. Kenaikan harga ini dikeluhkan para peternak ayam petelur di NTB. Pasalnya, kenaikan harga pakan utama ini kian memberatkan, terutama karena harga jual telur di pasaran masih stagnan dan tidak dapat disesuaikan dengan peningkatan biaya produksi.

Ketua Perhimpunan Peternak Unggas (Petarung) NTB, Ervin Tanaka, mengatakan bahwa kondisi ini paling memukul peternak kecil yang jumlahnya dominan di NTB. Sebagian besar anggota Petarung NTB adalah pelaku usaha mikro dan kecil dengan kapasitas 500 hingga 1.000 ekor ayam. “Mereka yang paling rentan. Kalau harga pakan tinggi terus, mereka tidak akan sanggup bertahan. Harga jagung sudah mulai tembus Rp6.500 per kilogram di Lombok,” ujarnya, Rabu (13/8).

Ironisnya, NTB dikenal sebagai salah satu provinsi penghasil jagung terbesar di Indonesia. Namun, harga komoditas ini tetap saja mengikuti fluktuasi harga rata-rata nasional. Untuk itu Pertarung meminta pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret. “Pemerintah harus segera melakukan intervensi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menahan laju kenaikan harga. Jangan tunggu harga sudah terlalu tinggi dan peternak banyak yang gulung tikar,” terangnya.

Melihat kondisi sebelumnya, harga jagung sempat tembus di angka Rp9.000 per kilogram, akibatnya banyak peternak yang bangkrut dan terpaksa menutup usaha mereka. Menurut Ervin, harga jagung yang ideal dan memungkinkan peternak serta petani sama-sama untung berada di kisaran Rp5.000 per kilogram. “Dengan harga tersebut, petani tetap mendapatkan keuntungan yang wajar, sementara peternak ayam petelur masih bisa bernafas lega,” ungkapnya.

Saat ini harga telur di pasaran Lombok rata-rata di bawah Rp50.000 per peti. Kondisi ini membuat peternak berada dalam posisi sulit. “Harga jagung naik, harga telur tidak bisa ikut naik karena sudah diatur pemerintah. Kalau kita naikkan, malah kena tegur,” ucapnya. Kendati demikian, diharapkan agar pemerintah baik itu daerah maupun pusat dapat memberikan perlindungan harga pakan, khususnya jagung, bagi para peternak ayam petelur. Ia mengimbau agar kejadian lonjakan harga ekstrem seperti yang terjadi pada tahun 2023 tidak terulang. “Kami minta bagaimana harga jagung ini bisa stabil, atau setidaknya turun sedikit, supaya peternak bisa bertahan. Tanpa adanya intervensi, kelangsungan hidup para peternak kecil,” tandasnya. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer