Mataram (Inside Lombok) – Potensi sentra gula Dompu seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi baru NTB. Dengan lahan tebu lebih dari 6.000 hektare dan produksi 108.456 ton gula pada 2022, tebu Dompu memiliki peluang besar. Namun, geliat industri gula Dompu kini tersendat. Politik lokal dan kebijakan impor gula disebut menjadi penghambat utama, membuat tebu kalah cepat dari jagung.
Di Kecamatan Pekat, PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) mengelola lebih dari 5.000 hektare lahan Hak Guna Usaha (HGU) dan 1.000 hektare lahan kemitraan. Menurut Dr. Iwan Harsono, ahli ekonomi regional Unram, komoditas tebu seharusnya masuk dalam RPJMD Dompu, dan NTB sebagai prioritas pembangunan. “Kalau tebu jadi prioritas, ini bisa menggerakkan PDRB dan menjadikan Dompu pusat agroindustri gula di Indonesia timur,” ujarnya. Iwan menilai ada bias sektor dalam politik pembangunan daerah. Jagung mendapat porsi anggaran, regulasi, dan dukungan kelembagaan yang besar. Akibatnya, pengembangan tebu Dompu sering tersisih meski potensinya tinggi.
Sementara itu, pengamat pertanian Unram, Dr. Anas Zaini, menilai kebijakan impor gula membuat pabrik enggan membina petani. “Selama impor longgar, pabrik akan pilih cara mudah dan murah, tidak akan repot menanam tebu,” ujarnya. Kepala Bank Indonesia NTB, Berry Arifsyah Harahap, mengatakan potensi sentra gula Dompu sangat nyata, tetapi realisasinya butuh percepatan. Infrastruktur seperti irigasi, jalan tani, pupuk, dan pelatihan harus dipenuhi. “Status kawasan saja tidak cukup. Harus ada tata niaga adil dan penerapan teknologi pertanian modern untuk menarik investasi jangka panjang,” tegas Berry.
Keputusan kini ada di tangan pemimpin daerah, apakah tebu Dompu akan menjadi lokomotif baru ekonomi NTB, atau tetap di bawah bayang-bayang jagung dan kebijakan impor gula. Tanpa langkah berani, Dompu berisiko hanya menjadi penonton di panggung industri gula lokal meski punya lahan subur yang siap jadi lumbung manis masa depan.

