Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB segera memberikan bantuan hibah berupa mesin pembakar sampah atau insinerator kepada Pemkot Mataram. Mesin insinerator ini diterima Pemprov NTB merupakan hibah dari salah satu perusahaan asal Korea Selatan.
Pj Sekda Provinsi NTB, Lalu Mohammad Faozal, mengatakan alat ini dipasang di TPS konvensional Sandubaya. Dimana, mesin insinerator seharga Rp3,5 miliar, “Mesin penghancur sampah itu hadiah dari Pemprov NTB ke Kota Mataram. ” Mesin ini dikasih ke gubernur, kemudian dari gubernur akan menghibahkan alat ini ke Kota Mataram,” katanya.
Ia mengatakan, mesin insinerator berwarna metalik itu sudah diuji coba dan menampakkan hasil signifikan. Dalam sehari, mesin tersebut bisa membakar 10 ton sampah. Dengan demikian, Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram bisa menghemat biaya untuk BBM untuk pengangkutan ke TPA Regional Kebon Kongok Lombok Barat. “Itu baru dari belanja operasional saja iritnya. Kalau dihitung sebulan hampir Rp 300-an juta lah Kota Mataram bisa irit dari alat itu,” ungkapnya
Pembakarannya disebut tidak menghasilkan polusi udara sehingga cocok digunakan di Kota Mataram. ” Ini alatnya zero emission (asap), itu yang terpenting. Nanti proses operasionalnya sudah diajarkan dari Korea ke TPST,” katanya. Sementara itu, Sekda Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, mengatakan alat tersebut nantinya bisa memaksimalkan pengurangan sampah yang dibuang ke TPA Kebon Kongok. “Hasilnya cukup bagus dan jadi pertimbangan kita untuk melakukan pengadaan mesin insinerator yang serupa,” katanya.
Berdasarkan informasi dari operator, mesin tersebut bisa membakar 5 ton sampah per 8 jam atau satu kali shift. Nantinya direncanakan selama operasionalnya dua shift sehari, sehingga mampu membakar 10 ton sampah sehari. TPST konvensional Sandubaya snediri sudah siap untuk mengoperasikan mesin insinerator karena hanya dibebankan untuk menyiapkan sambungan listrik. Dari hasil uji coba, jaringan listriknya memadai untuk membakar tumpukan sampah. “Biaya listriknya sekitar Rp150 ribu per hari. Jadi sekitar Rp 4,5 juta per bulan. Tidak masalah kita siapkan anggarannya karena manfaatnya sangat besar,” jelas Alwan.

