Lombok Utara (Inside Lombok)- Di tengah derasnya arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus menunjukkan komitmennya untuk melestarikan tradisi adat dan budaya lokal. Salah satunya dengan digelarnya ritual adat Memayu Ayu Muja Balit Muleq Kaya di Pegedengan Pepujan Tanjung Bageq Sari, Dusun Kandang Kaoq.
“KLU terkenal dengan banyaknya tradisi adat dan budaya. Ini harus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan budaya oleh para leluhur,” ujar Wakil Bupati KLU, Kusmalahadi Syamsuri, Rabu (10/9).
Ia mengakui bahwa perkembangan teknologi memiliki dua sisi mata uang, yaitu dampak positif dan negatif. Namun, tradisi lokal yang masih terjaga dapat menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk ikut melestarikan, terutama dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. “Apresiasi setinggi tingginya kepada masyarakat yang hadir, khususnya masyarakat Orong Empak Panasan dalam menjaga dan melestarikan adat dan budaya para leluhur,” tuturnya.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi benteng dari dampak negatif modernisasi. Dimana ritual Memayu Ayu Muja Balit Muleq Kaya yang berlangsung pada 9-10 September ini dihadiri oleh masyarakat penganut Buddha dari tiga kecamatan, yaitu Tanjung, Pemenang, dan Gangga.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi NTB, Sudirsah Sujanto, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan wujud rasa syukur kepada sang maha pencipta atas karunia berupa hasil panen yang melimpah. Melalui ritual adat seperti dilakukan oleh masyarakat di KLU ini, nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan, dan rasa syukur terus dipupuk, menjadi landasan moral bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan.
“Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya akar budaya di KLU. Pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk memastikan bahwa warisan tak benda ini tidak punah dimakan zaman,” ujarnya. (dpi)

