31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaMataramKetika Gubernur NTB Bicara Literasi: Buku sebagai Jendela Jiwa dan Kebudayaan

Ketika Gubernur NTB Bicara Literasi: Buku sebagai Jendela Jiwa dan Kebudayaan

Mataram (Inside Lombok) – Membangun tradisi membaca tidak pernah lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari ketersediaan buku yang dekat, berlimpah, dan mudah dijangkau. Itulah pesan yang ditekankan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, dalam acara Bunda Literasi Menyapa yang digelar pada peringatan Hari Kunjung Perpustakaan 2025 di Gedung Pusat Layanan Perpustakaan, Kamis (2/10).

“Anak-anak tidak perlu dipaksa membaca. Letakkan saja buku di kamar mereka, biarkan ia hadir di sekeliling keseharian, maka perlahan buku itu akan merasuk ke jiwa. Saya yakin, jika buku diperbanyak dan hadir di mana-mana, minat baca akan tumbuh dengan sendirinya,” tutur Iqbal.

Pernyataan ini seakan mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan perjumpaan yang intim antara manusia dan teks. Buku yang hadir di ruang hidup masyarakat adalah jendela budaya. Buku membentuk kebiasaan, bahkan cara kita memandang dunia.

Dalam kesempatan yang sama, Iqbal memberi penghargaan kepada para pegiat literasi yang selama ini menempuh jalan sunyi, yaitu membawa buku hingga ke pelosok, menyalakan obor pengetahuan di sudut-sudut NTB. Menurutnya, mereka adalah jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan cakrawala ilmu.

“Kedepannya, saya berharap para penggiat literasi tidak berjalan sendiri. Saatnya pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, berjalan bersama mereka. Menumbuhkan budaya membaca harus menjadi kerja kolektif, sebuah gerakan yang melibatkan semua lapisan,” tegasnya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Bunda Literasi NTB sekaligus Bunda Permainan Tradisional, Sinta M. Iqbal, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip NTB Ashari, Kepala BPSDM Baiq Nelly Yuniarti, Kepala Dinas Sosial Nunung Triningsih, serta sejumlah penggerak literasi dari berbagai penjuru daerah.

Hari Kunjung Perpustakaan tahun ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi sebuah pengingat bahwa membaca adalah napas kebudayaan. Setiap buku yang hadir di tengah masyarakat, sesungguhnya adalah benih yang menunggu untuk tumbuh menjadi hutan pengetahuan. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer