Mataram (Inside Lombok)- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB gencar mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah melalui gelaran Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Mataram. Acara ini bertujuan meningkatkan literasi, inklusi, dan akselerasi keuangan syariah di tengah tren positif kinerja sektor ini di NTB.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menyebutkan bahwa sektor keuangan merupakan sektor yang paling rentan dan sekaligus paling terglobalisasi. Di sinilah letak peran sentral keuangan syariah. Bagi banyak pengusaha, keuangan syariah memberikan jaminan yang dibutuhkan.
“Kelebihan keuangan syariah ini adalah karena dia memberikan kepastian buat dunia usaha. Saya berharap, mudah-mudahan syariah kita berkomitmen untuk membangun umat, masyarakat di sektor terbawah,” ujarnya.
Ditambahkan, Kepala OJK NTB, Rudi Sulistiyo, mengungkapkan bahwa data kinerja keuangan syariah di NTB saat ini menunjukkan potensi besar. Tercatat total aset perbankan syariah mencapai Rp24,85 triliun, tumbuh 11,02 persen (YoY). Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp16,66 triliun atau tumbuh 9,06 persen (YoY). Dan pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp18,23 triliun.
“Perlu kami sampaikan, data kinerja keuangan Syariah di Provinsi NTB posisi Agustus 2025 menunjukkan perkembangan yang positif dan menjadi potensi yang terus kami dorong,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mencatat bahwa mayoritas pembiayaan perbankan syariah di NTB, yakni sebesar 86,79 persen dari total pembiayaan, masih didominasi oleh pembiayaan konsumtif. ”Kalau dari sektor non-perbankan, kinerja perusahaan pembiayaan juga menunjukkan peningkatan sebesar 4,64 persen dengan kontribusi terhadap pembiayaan yang terus bertumbuh,” jelasnya.
Dikatakan, Mataram dipilih menjadi kota keempat dalam rangkaian kegiatan nasional SYAFIF, menyusul kesuksesan di Bandung yang mencatat pembukaan 784 rekening baru dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp73,6 miliar.
Untuk itu kegiatan SYAFIF Goes to Mataram yang berlangsung selama dua hari serta melibatkan 17 Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) syariah dan dua lembaga yang mengisi 20 booth inklusi. Institusi yang terlibat mencakup perbankan, asuransi, pembiayaan, pegadaian, serta dukungan dari MUI dan Bank Indonesia.
“Kami berharap, kegiatan ini menjadi Momentum penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah di NTB, terutama bagi generasi muda, pelajar, mahasiswa, dan komunitas kreatif,” imbuhnya.
Kemudian platform kolaborasi yang menciptakan kolaborasi lintas sektor antara perbankan, lembaga pembiayaan, fintech syariah, UMKM, dan pelaku industri halal untuk menciptakan ekosistem keuangan syariah yang lebih dinamis dan inovatif. Serta akselerasi transaksi digital mendorong penguatan transaksi keuangan syariah secara digital, transparan, dan beretika.
“Sehingga masyarakat NTB dapat memanfaatkan layanan keuangan yang lebih baik, sesuai prinsip syariah, dengan tetap menjaga keamanan dan kenyamanan bertransaksi,” demikian. (dpi)

