32.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaMataramTradisi “Rebaq Jangkeh” di Dasan Agung, Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Tradisi “Rebaq Jangkeh” di Dasan Agung, Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Mataram (Inside Lombok) – Warga Kelurahan Dasan Agung, Kota Mataram, menutup rangkaian peringatan Maulid Nabi SAW dengan tradisi “Rebaq Jangkeh” pada Sabtu (4/10). Tradisi turun-temurun ini tetap dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya keagamaan masyarakat setempat.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat berkeliling sambil melantunkan shalawat Nabi SAW. Tradisi yang telah berlangsung sejak lama ini diikuti oleh warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. “Rebaq jangkeh itu sebetulnya kegiatan yang diadakan di setiap masjid yang ada di lingkungan Dasan Agung,” kata Tokoh Pemuda Dasan Agung, Baehaqi.

Beragam bentuk kreativitas masyarakat turut ditampilkan, seperti jamaah yang berkeliling menggunakan kuda, ibu-ibu membawa dulang maulid berisi makanan dan buah-buahan, hingga partisipasi jamaah umrah dan kelompok lainnya. Menurut Baehaqi, selama pelaksanaan Maulid Nabi SAW, masyarakat juga menggelar berbagai kegiatan seperti ngurisan, khataman Al-Qur’an, dan peraje. “Ini tradisi yang diwariskan oleh orang tua kita. Ini memiliki nilai yang sangat positif. Ini yang ditampilkan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan “Rebaq Jangkeh”, warga biasanya membawa uang yang dihias dalam berbagai bentuk seperti bunga atau hiasan sepeda. Uang tersebut dikumpulkan di masjid sebagai lokasi akhir kegiatan. “Ada namanya pawai shalawat, itu bagian dari kreativitas mengekspresikan cara mereka memperingati maulid. Itu semua akan dikumpulkan di masjid, insyaallah bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Ketua KNPI NTB itu.

Dana yang terkumpul kemudian dikelola oleh pengurus masjid untuk keperluan pembangunan atau kegiatan sosial lainnya. “Ini sudah biasa dilakukan dari tahun ke tahun. Nanti itu penggunaannya terserah pengurus masjid,” katanya.

Baehaqi menambahkan, pelestarian tradisi seperti “Rebaq Jangkeh” tidak berarti menolak perkembangan zaman. “Tetap kita harus dalam keseimbangan. Di satu sisi kita harus ikuti perkembangan yang ada karena itu konsekuensi dari modernisasi. Tapi nilai luhur itu jangan tenggelam,” harapnya.

- Advertisement -

Berita Populer