Mataram (Inside Lombok) — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Meningkatkan Sinergi Multi-Pihak dalam Riset Energi Baru Terbarukan Indonesia” di Aula BRIDA NTB pada Rabu (9/10). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam pengembangan energi terbarukan untuk mempercepat transisi energi di daerah.
Kepala BRIDA NTB, I Putu Gde Aryadi, menyampaikan apresiasi atas partisipasi berbagai pihak dalam forum tersebut. Ia menyebut NTB memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dari berbagai sumber. “Selain pengolahan sampah, NTB juga memiliki potensi energi dari rumput laut dan tenaga surya. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dioptimalkan menjadi solusi konkret bagi kebutuhan energi daerah,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya hasil riset yang terdokumentasi dalam bentuk publikasi ilmiah agar dapat diakses luas dan menjadi rujukan pengembangan EBT ke depan. Dalam sesi pemaparan, Dr. Eng. Obie Farobie, M.Si., mempresentasikan materi berjudul “Peta Jalan Kolaboratif untuk R&D Energi Terbarukan dan Peran Akademisi, Industri, dan Pengambil Kebijakan”.
Dr. Obie memperkenalkan konsep Riset Unggulan Berdampak (RIKUB) sebagai wadah sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha dan industri (DUDI), serta pemerintah daerah guna menghasilkan inovasi riset yang aplikatif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Dr. Eng. Apip Amrullah, menyoroti pentingnya kolaborasi berbasis empat pilar, yakni berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Ia juga memaparkan konsep Desa Berdaya, yaitu desa hijau yang bebas sampah, mandiri energi, serta berdaya ekonomi melalui pemanfaatan potensi lokal. (gil)

