31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaMataramFestalora 2025 Nyalakan Daya Sastra di Lombok Utara

Festalora 2025 Nyalakan Daya Sastra di Lombok Utara

Mataram (Inside Lombok) – Dari utara Lombok, kabar tentang sastra menyeruak. Selama tiga hari, 23–25 Oktober 2025, sejumlah titik di Lombok Utara berubah menjadi ruang bagi kata dan imajinasi. Sanggar Anak Gunung berhasil menyelenggarakan Festival Sastra Lombok Utara, atau Festalora 2025, dengan tema “Daya Daya”.

Bagi Lombok Utara, ini bukan sekadar acara sastra. Menurut Ketua Panitia Festalora 2025, Saripudin, festival ini menjadi yang pertama di wilayah itu. Ia dan rekan-rekannya memilih format festival karena ingin menghadirkan ruang pertemuan antara penulis dan pembaca—sebuah pengalaman yang selama ini belum pernah terjadi di daerah mereka.

“Kami berpendapat bahwa festival adalah ruang yang tepat untuk berkenalan dan mengapresiasi karya penulis asal Lombok Utara,” kata Saripudin, Senin, (27/10). “Ide ini semakin mantap setelah kami meminta masukan dari beberapa pihak, seperti Yusran Hadi, Galih Mulyadi, dan Kiki Sulistyo, dan lain-lain,” tambah Saripudin.

Kondisi sastra di Lombok Utara sebelumnya memang tak begitu menggembirakan. Penulis-penulis terus bermunculan, tapi apresiasi publik masih terbatas. Dunia teater justru lebih hidup; setiap kali pementasan diadakan, kursi penonton selalu terisi penuh. Sanggar Anak Gunung sendiri selama ini lebih dikenal lewat produksi teaternya ketimbang kegiatan literasi.

Namun perlahan, arah angin mulai berubah. Sanggar Anak Gunung kini menghidupkan minat baca melalui program yang mereka jalankan di Perpustakaan Sanggar Anak Gunung, Gondang. Program bertajuk Batur Sanggar itu membawa buku-buku ke pelosok desa dan mengajak masyarakat membaca bersama. “Kami lebih sering mengunjungi orang-orang, daripada menunggu mereka datang kepada kami,” ujar Saripudin.

Festalora 2025 memperlihatkan hasil dari kerja senyap itu. Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan sastra mulai tumbuh. Peserta lomba cipta puisi dan cerpen datang dari berbagai penjuru Lombok Utara, dan setiap sesi acara selalu ramai hadirin. “Dari dua lomba itu, terlihat bahwa bibit-bibit penulis mulai tumbuh. Semoga masyarakat Lombok Utara makin menaruh perhatian pada sastra,” kata Saripudin.

Dengan semangat “Daya Daya”, Festalora bukan hanya festival sastra pertama di Lombok Utara. Ia menjadi penanda bahwa sastra kini menemukan daya hidupnya sendiri di kaki Rinjani. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer