Atasi Krisis Literasi, Lobar Ingin Terapkan Pembelajaran Sesuai Level Kemampuan Siswa

63
Kegiatan sosialisasi pembelajaran literasi berbasis level kemampuan di Lobar. Kamis (30/06/2022). (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Setelah sukses diterapkan di beberapa kabupaten di NTB, kini giliran Lombok Barat (Lobar) yang ingin menerapkan pengimbasan pembelajaran literasi berbasis level kemampuan. Program tersebut untuk meningkatkan literasi dan numerasi siswa di Lobar yang masih sangat rendah.

Kepala Bidang Sosial Budaya (Sosbud) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lobar, Mutmainnah, Kamis (30/6/2022) saat sosialisasi pembelajaran berbasis level kemampuan di kantor Bappeda mengatakan, pihaknya sangat tertarik untuk pengimbasan pembelajaran berbasis level kemampuan tersebut. Karena hal itu diyakini akan menjadi solusi jitu untuk mengatasi masalah literasi dan numerasi siswa di Lobar.

“Jadi kami sangat tertarik. Karena dari data yang kami peroleh banyak sekali siswa sekolah dasar yang belum melek literasi dan numerasi. Menurut kami, bagaimana bisa melanjutkan ke sekolah berikutnya kalau bermasalah di literasi dan numerasi,” ujarnya.

Sejauh ini, kabupaten di NTB yang sudah melakukan pengimbasan pembelajaran berbasis level kemampuan siswa adalah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) dan juga Lombok Timur (Lotim) serta Kabupaten Bima.

Hasil dari program yang digagas oleh Pemda setempat berkolaborasi dengan FKIP Universitas Mataram yang didukung Program Inovasi untuk Anak Indonesia (INOVASI) NTB tersebut sangat memuaskan. Di mana, terjadi peningkatan literasi dan numerasi siswa SD/MI yang mencapai 70 persen. Sebelumnya, banyak siswa yang bahkan hingga kelas V SD/MI belum bisa membaca dan berhitung.

Atas intervensi pembelajaran berbasis level kemampuan, terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam membaca dan berhitung. Selain itu, program ini juga ampuh di dalam meningkatkan kompetensi guru.

“Harapannya praktik baik yang sudah diterapkan di kabupaten lain itu bisa kami terapkan di sini. Karena berdasarkan raport pendidikan, kemampuan literasi dan numerasi untuk Lobar masih di bawah 50 persen. Itu yang mendorong kami agar difasilitasi oleh INOVASI,” tandasnya.

Dia menerangkan, Pemda Lobar berharap program pembelajaran berbasis level kemampuan ini bisa segera diterapkan di Lobar. Adapun untuk dukungan anggaran, diperkirakan bisa disiapkan di APBD tahun 2023. Pasalnya, anggaran saat ini sudah terealisasi untuk kegiatan lain. Namun, tidak menutup kemungkinan anggarannya bisa diupayakan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang ada di sekolah.

“Kalau dibandingkan dengan Loteng dan Lotim kita ini sudah tertinggal. Tapi tidak mengapa. Ini akan kita terapkan,” cetus Mutmainnah.

Sementara itu, Koordinator Distrik INOVASI untuk Pulau Lombok, Muhtar Ahmad dalam kesempatan yang sama menyambut positif upaya Lobar untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis level kemampuan siswa.

Jika program ini dinilai cocok sebagai solusi untuk mengatasi persoalan literasi dan numerasi siswa di Lobar, maka harapannya Dinas Pendidikan juga Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lobar mengawali dengan membangun kapasitas calon fasilitator di kabupaten dan berinisiatif untuk merancang pola sosialisasi kepada sekolah atau madrasah untuk mendorong penerapannya.

“Harapannya SD/MI yang ingin menerapkan solusi pembelajaran ini mengalokasikan anggaran dari BOS yang dikelola untuk peningkatan kompetensi guru. Atau jika memungkinkan, Dinas Pendidikan bisa mengalokasikan APBD untuk menguatkan rencana ini,”katanya.

Selain itu, Dinas Pendidikan dan juga Kemenag Lobar juga diharapkan segera melakukan sosialisasi kepada sekolah dasar dan madrasah. Sehingga nantinya akan terlihat mana sekolah yang tertarik untuk implementasi program tersebut dan segera melakukan persiapan. Misalnya mengalokasikan anggaran melalui dana BOS yang memang sudah ada alokasi untuk itu.

“Dengan begitu tidak akan terlalu berat dari aspek anggaran. Karena sekolah dan madrasah sebenarnya cukup mandiri untuk melakukan itu,”katanya.

Adapun dukungan dari INOVASI nantinya adalah penguatan kapasitas calon fasilitator dengan memberikan pembekalan lebih dahulu. Harapannya, yang melatih fasilitator ini juga bukan hanya dari INOVASI atau tenaga ahli. Melainkan ada sumber daya yang ada di Lobar. Sehingga ada fasilitator yang berkapasitas.

Hal itu juga akan sangat berguna ketika program pembelajaran berbasis level kemampuan ini akan diterapkan secara luas di semua sekolah di Lobar.

“Jika nantinya penerapan semakin meluas dan dibutuhkan lebih banyak tenaga fasilitator, bisa saja fasilitator yang ada melatih fasilitator tambahan.” Imbuh Muhtar.

Menurutnya, akan bagus juga kalau ada revisi anggaran di Lobar untuk mendukung program ini seperti yang sudah dilakukan Pemda Loteng. Di mana, Dinas Pendidikan Loteng menggunakan dana APBD untuk melatih semua pengawas SD dalam implementasi program ini. Selain itu, Kemenag juga telah merancang pengimbasan program ini di semua madrasah yang ada.

“Di Lombok Tengah, tenaga fasilitator yang dilatih berjumlah 20 orang dari unsur pengawas, kepala sekolah/madrasah, dan guru terpilih. Pengawas lainnya dilatih dinas,” ujarnya.

Sementara itu, saat kegiatan sosialisasi tersebut dirinya juga memaparkan pola pembelajaran berbasis level kemampuan. Di mana, langkah awal adalah melakukan asesmen atau penilaian kemampuan siswa. Kemudian dilakukan pengelompokan berdasarkan kemampuan masing-masing siswa. Dalam hal ini, siswa kelas atas ada juga yang digabung dengan siswa kelas bawah. Namun, pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Sehingga siswa bersemangat. Begitu pula dengan para guru. Sehingga sangat efektif dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa.

Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Lobar, Hj. Lale Puspasari menyatakan literasi dan numerasi siswa madrasah di Lobar masih di bawah harapan. Sehingga dia berharap pengimbasan pembelajaran berbasis level kemampuan siswa tersebut segera dilakukan.

Menurut dia, dalam program ini, pemberian materi pelajaran kepada peserta didik tidak dilakukan dengan cara dipaksa. Selain itu, sekarang ini pemerintah pusat sudah meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum tersebut akan mudah diterapkan sekolah kalau sebelumnya sudah menerapkan pembelajaran berbasis level kemampuan yang saat ini diterapkan Loteng, Lotim dan Kabupaten Bima. Karena antara kedua hal itu memiliki pola yang sama.

“Ini akan cepat diserap oleh anak-anak di Lobar. Apalagi kita ada 100 jumlah madrasah,” tandasnya.

Madrasah di Lobar juga dinilai sangat siap untuk menerapkan pembelajaran berbasis level kemampuan ini. Untuk sekolah mana saja yang akan menjadi percontohan, akan diseleksi oleh pihaknya.

“Kami akan memenuhi semua yang dibutuhkan untuk ini,” katanya.

Adapun anggaran untuk program ini diakuinya memang tidak ada. Tapi, sudah ada Kelompok Kerja Madrasah ( KKM) yang akan menjadi wadah untuk mensosialisasikan program tersebut. Sehingga dia optimis program ini bisa berjalan. (yud)