Lombok Timur (Inside Lombok) – Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta perkawinan usia anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) membuat berbagai elemen turun untuk menekan angka tersebut. Seperti program BERANI II (Better Reproductive Health and Rights for All in Indonesia) yang dikemas melalui Gawe Gubuk di Desa Aikdewa, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur pada Rabu (25/06/2025).
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin mengapresiasi adanya BERANI II dan semua pihak yang terlibat beserta para lembaga internasional yang bekerjasama dengan pemerintah daerah. Hal itu merupakan langkah nyata dalam melakukan pencegahan dan bagaimana menekan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Harus bersyukur punya anak, banyak orang tidak punya anak. Dikasih keturunan kok kita melakukan kekerasan pada anak kita, tidak manusiawi,” tegasnya.
Kehadiran seluruh lembaga, pemerintah dan kementerian yang berperan aktif dalam BERANI II. Menurut Bupati langkah ini sangat positif yang harus dilakukan di desa lain di Lombok Timur, bukan saja hanya di Desa Aikdewa.
“Ini harus ditularkan ke desa-desa yang lain juga karena di Lombok Timur sangat banyak desa dan kelurahan yang mencapai 254, dengan jumlah penduduk hampir 1,5 juta,” ungkapnya.
Kegiatan BERANI II ini sudah kedua kalinya di Lombok Timur. Sebelumnya kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik. Namun ia menekankan kegiatan serupa juga dapat dilakukan di desa-desa lainnya yang memiliki angka perkawinan anak masih tinggi.
“Kita harapkan kegiatan ini dapat dilaksanaksan di desa-desa lain, bukan di sini saja. Cuma kaan NGO ini juga memiliki daerah binaan di beberapa kecamataan saja,” jelasnya.
Tingginya angka perkawinan anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menjadi sorotan. Perwakilan TP PKK Provinsi NTB, Hj. Lale Prayatni Gita Ariadi, mengungkapkan keprihatinannya atas fakta bahwa NTB masih mencatat angka perkawinan anak yang jauh melampaui rata-rata nasional. “Perkawinan anak masih menjadi tantangan serius di NTB,” ujarnya dalam sebuah pertemuan baru-baru ini.
Ia merinci, sepanjang 2024, angka perkawinan anak di NTB mencapai 14,96 persen, sedangkan rata-rata nasional tercatat 5,90 persen. Bahkan pada 2023, NTB sempat menempati posisi teratas secara nasional dengan angka 17,22 persen.
Menghadapi kondisi ini, Lale menilai kehadiran Program BERANI II sangat strategis dalam mendukung upaya penurunan angka perkawinan anak di NTB. Program ini telah berjalan sejak 2018 dan kini memasuki fase kedua hingga 2027. Dengan menyasar kelompok masyarakat rentan melalui pendekatan berbasis komunitas, pelatihan bagi pasangan muda, serta edukasi terkait kesehatan reproduksi.
Senada dengan itu, perwakilan dari Direktorat Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Kemendagri, Qurrotaa’yun, menegaskan sinergi berbagai pihak telah terjalin kuat di Lombok Timur. Pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah, perangkat desa, organisasi profesi, dan mitra pembangunan dinilai telah bekerja sama erat dalam mengoptimalkan program peningkatan kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan dan anak perempuan.
Dukungan dari mitra internasional juga terus mengalir. Perwakilan Global Affairs Canada, Novi Anggriani, menyatakan komitmen negaranya untuk terus berkolaborasi dengan Pemerintah Indonesia melalui Program BERANI II.
Menurutnya, penguatan kesehatan seksual dan reproduksi menjadi fondasi penting bagi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Selain dukungan pendanaan, Kanada juga berkontribusi melalui transfer keahlian dan penguatan kapasitas lokal untuk menciptakan sistem yang tahan lama dan bermanfaat jangka panjang.

