32.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaBerita UtamaBI NTB Tetap Waspada Dampak Geopolitik

BI NTB Tetap Waspada Dampak Geopolitik

 

Mataram (Inside Lombok)- Konflik geopolitik antara Iran dan Israel semakin meluas, Amerika Serikat pun mulai melalukan genjatan senjata. Situasi ini cukup mengkhawatirkan, terutama pada gejolak ekonomi nasional maupun daerah seperti di NTB. Meskipun dampaknya belum terasa signifikan secara langsung, Bank Indonesia (BI) terus mencermati potensi gejolak, terutama terkait harga komoditas strategis seperti minyak.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPWBI) NTB Berry Arifsyah Harahap menyebutkan, bahwa dampak langsung dari konflik Iran-Israel terhadap sektor ekspor NTB belum terlihat. Namun, kenaikan harga minyak global menjadi sorotan utama.

“Harga minyak (mentah) saya lihat beberapa waktu lalu dibawah 70 perbarel, sekarang sekitar 76 per barel, (hitungan harga,red) West Texas Intermediate (WTI) yang biasa kita gunakan, itu dia naik. Sebenarnya masih diharga 70-an, kalau diatas itu baru kita khawatir, dampaknya kan banyak kalau minyak itu,” ujarnya, Selasa (24/6).

Lebih lanjut, kenaikan harga minyak berpotensi memicu lonjakan subsidi energi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga barang dan jasa lainnya. Namun, BI menilai kondisi saat ini belum mengkhawatirkan dan masih memerlukan waktu untuk melihat manifestasi dampak penuh dari ketegangan geopolitik tersebut.

Selain harga minyak, BI juga memantau indikator lain seperti Baltic Dry Index, yang menjadi tolok ukur biaya pengiriman logistik. Sejauh ini, Berry menyebutkan belum ada pergerakan signifikan pada indeks tersebut.

Ia menambahkan bahwa ketegangan di Timur Tengah sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sebelum Perang Dunia II, dengan fluktuasi mereda dan memanas. Sebagai antisipasi, sudah ada jalur-jalur pelayaran alternatif yang menghindari daerah konflik, meskipun hal ini tentu saja menimbulkan konsekuensi biaya.

“Memang biayanya menjadi tambah mahal, Kemarin informasinya dari mitra (eksportir NTB,red) itu, kalau menghindari selat Hormuz itu dia akan menambah hari jadi 34 hari dari USA, jadi memang ada tambahan biaya transportasi, sama seperti kejadian Ukraina dan Rusia yang tengah ramai,” jelasnya.

Sementara itu, BI NTB berharap ketegangan geopolitik ini tidak berlarut-larut agar dampaknya terhadap perekonomian dapat diminimalisir. Secara internal, BI sendiri masih lebih fokus pada asesmen tarif dari Amerika Serikat. Sementara dampak geopolitik global belum termanifestasi sepenuhnya dalam indikator ekonomi lokal. Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi global untuk memastikan stabilitas ekonomi NTB tetap terjaga.

“Jadi kita lihat lah, mudah-mudahan tidak terlalu panjang. Jadi BI sendiri masih mengakses lebih ke tarif (ekspor yang naik,red) ke USA, geopolitik belum termanifestasi,” pungkasnya. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer