BI Pantau Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian NTB

Logo Bank Indonesia. (Inside Lombok/ANTARA/Awaludin)

Mataram (Inside Lombok) – Bank Indonesia (BI) terus memantau dampak virus corona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) terhadap perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu daerah tujuan wisata dan industri olahan berbahan baku impor.

“Kami juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi NTB, khususnya menjelang penyelenggaraan event MotoGP 2021 di Lombok,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB, Achris Sarwani, di Mataram, Kamis.

Menurut dia, adanya wabah Covid-19 diperkirakan akan berpengaruh pada sisi perdagangan internasional (ekspor-impor) dan pariwisata.

Covid-19 telah berdampak pada penurunan aktivitas ekonomi negara Asia di luar Tiongkok, dengan banyaknya pabrik, tempat bisnis serta perkantoran yang ditutup.

Hal tersebut, kata Achris, akan berdampak pada penurunan kegiatan produksi yang menggunakan bahan baku yang diimpor, termasuk dari Indonesia yang akan mengurangi permintaan industri bahan baku di Indonesia.

Sebaliknya, kurangnya pasokan bahan baku yang diimpor dari negara terdampak Covid-19 berpotensi menurunkan kegiatan industri pengolahan di Indonesia, termasuk industri di NTB.

“Sementara dari sisi pariwisata, dengan adanya penyebaran Covid-19, wisatawan asing akan enggan untuk bepergian keluar dari negaranya sampai negara-negara tujuan pariwisata dinyatakan aman,” ujarnya.

Ia menambahkan ketidakpastian pasar keuangan global akibat Covid-19 makin tinggi, meskipun intensitas di Tiongkok mulai berkurang.

Asesmen terkini Bank Indonesia menunjukkan penyebaran Covid-19 di China, mulai berkurang dan berdampak positif pada kenaikan kegiatan ekonomi di negara tersebut.

Namun demikian, ketidakpastian pasar keuangan makin meningkat pasca ditemukannya kasus Covid-19 di luar China. Investor global menarik penempatan dananya di pasar keuangan negara berkembang dan mengalihkan kepada aset keuangan dan komoditas yang dianggap aman seperti Treasurt Bond AS dan emas.

“Kondisi tersebut kemudian menekan pasar keuangan dunia dan memberikan tekanan depresiasi cukup tajam pada banyak mata uang global, termasuk Indonesia,” ucap Achris.

Untuk itu, kata dia, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain dalam melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dan memitigasi dampak risiko Coid-19 terhadap perekonomian domestik.

Achris menambahkan pemerintah telah dan akan terus meningkatkan ruang stimulus fiskal dan memberikan kemudahan berusaha di sektor riil termasuk kegiatan pariwisata dan ekspor-impor, sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi.

“Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas moneter, nilai tukar Rupiah, dan pasar keuangan, serta mendorong momentum pertumbuhan ekonomi,” katanya. (Ant)