Cerita Perempuan Buruh Tani, Kerja Keras Meski Hamil dan Membawa Balita

Rena Handayani sedang menyabit padi di salah satu sawah milik warga, Selasa (16/3/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Panen raya yang sedang berlangsung di Lombok Tengah (Loteng) disambut gembira oleh para buruh tani, termasuk Rena Hartati Handayani. Perempuan berusia 20 tahun asal desa Kelebuh kecamatan Praya Tengah itu bahagia karena bisa membantu suaminya untuk mendapatkan penghasilan.

Dia tetap semangat menyabit padi hingga mengumpulkannya ke tempat penggiling meski sedang hamil dua bulan. Dia mengaku tidak takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap bayi yang sedang dikandungnya itu.

“Saya tidak takut. Kalau dia siap sama-sama hidup kesie (sengsara) dia akan hidup,” katanya.

Ucapan tanpa beban Rena tersebut, karena melihat banyak perempuan lain yang juga turun membantu suaminya ke sawah menjadi buruh tani meski sedang hamil. Dan kondisinya bayinya sehat hingga melahirkan.

“Bekerja (menjadi buruh tani) hanya sekarang ini saja (saat panen raya). Kalau sudah selesai tidak bisa lagi,”ujarnya.

Selain itu, menjadi buruh tani saat musim tanam dan panen raya sudah menjadi kebiasaannya dari dulu. Karena menjadi ladang rezeki baginya yang tidak memiliki pekerjaan tetap karena tidak menempuh pendidikan tinggi.

“Dulu sebelum nikah juga bekerja begini. Kalau tidak ada musim tanam kadang ulat ketak (kerajinan ketak),”katanya.

Adapun suaminya, sudah melarangnya untuk turun ke sawah. Namun dia bersikeras agar penghasilan yang mereka peroleh bisa lebih banyak.

Perempuan buruh tani lain yang juga semangat membantu suaminya turun ke sawah adalah Suharni. Perempuan 37 tahun itu tetap semangat membantu suaminya bekerja sebagai buruh tani.

Pekerjaan yang dilakukan pun tidak dipilih-pilih. Namun sama seperti pekerjaan laki-laki yakni menyabit padi dan mengumpulkan padi yang sudah disabit ke tempat penggiling.

Menjadi buruh tani, menurut Suharni adalah anugerah. Karena dia dan suaminya tidak memiliki sawah untuk menanam padi yang bisa dipanen untuk dimakan.

“Kalau punya sawah mungkin saya tidak ikut ke sawah. Karena bisa urus anak di rumah sambil buat kerajinan ketak. Kalau tidak panen saya biasanya buat kerajinan ketak,”tuturnya.

Panen raya kali ini adalah yang pertama baginya menjadi buruh tani lagi setelah tiga tahun absen karena melahirkan. Adapun kini, anaknya sudah berusia tiga tahun dan diajak serta ke sawah.

“Biar dia terbiasa begini. Lagipula dia tidak mau diam di rumah. Mau ikut saja,”katanya.

Sementara perempuan lainnya, Suhaini mengaku menikah ke Semayan kelurahan Praya. Namun dia menjadi buruh tani di desa Kelebuh yang merupakan desa asalnya sebelum menikah.

Dia mengaku kalau panen raya ini adalah ladang rizki baginya. Karena bisa mendapatkan penghasilan dan tidak perlu membeli beras. Sama halnya dengan Suharni, Suhaini juga membawa serta balitanya yang berusia tiga tahun ke sawah.

“Dia sudah sering ikut dari usia satu tahun. Tapi waktu itu saya titip di neneknya. Kalau sekarang ikut ke sawah karena tidak mau ditinggal,”katanya.

Dia berharap mesin panen padi yang saat ini sudah masuk di kota-kota besar tidak akan masuk ke desa-desa. Karena keberadaan mesin panen padi tersebut otomatis akan mematikan sumber pencahariannya saat panen raya seperti saat ini.

“Saya inginnya itu (mesin) panen itu tidak ada di sini. Katanya juga itu bikin padi rusak pakai mesin itu,”katanya.