Dampak La Nina, Petani Jagung di Lobar Terancam Gagal Panen

172
Tampak lahan jagung di salah satu sawah di Gerung, Lombok Barat, rusak dan tergenang air hujan. Senin (02/11/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Dampak dari mulai meningkatnya curah hujan dalam fenomena La Nina ini bagi para petani. Seperti yang terjadi di Lombok Barat, nengakibatkan mereka terancam gagal panen. Terutama para petani yang sedang menunggu masa panen jagung yang telah mereka tanam.

Pasalnya, pertumbuhan jagung menjelang masa panen ini justru tidak baik. Banyak yang rusak karena tergenang air hujan. Sehingga panen diprediksi tidak akan bisa maksimal.

“Kondisinya lahan kami di sini terendam karena curah hujan yang tinggi. Dan ini belum saatnya panen, jadi kami sebagai petani merasa rugi” ungkap Hamka, ketua Gapoktan Gerung, sembari menunjukkan lahan jagung yang ditanamnya tergenang air hujan, Senin (02/11/2020) sore kemarin.

Karena pada kondisi di tengah covid-19 ini tidak memungkinkan apabila harus dilakukan panen dini secara besar. Dirinya menyebut, tidak mungkin jagung dapat diserap dengan jumlah besar oleh pasar. Mengingat kurangnya konsumen saat pandemi ini.

“Kalau jagungnya begini dalam kondisi belum panen, jelas hasilnya sudah tidak akan maksimal” imbuhnya.

Di mana gagal panen diperkirakan sekitar 50 persen dari luas lahan. Karena setengah dari luas lahan jagung yang ditanam mengalami kerusakan akibat tingginya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.

“Kalau kami sekitar 1 hektare lahan kami yang terendam oleh curah hujan yang tinggi” ujarnya.

Selain ancaman kegagalan panen, Hamka juga mengaku mengalami kerugian yang cukup besar karena anjloknya harga jagung. Yang mana lanjutnya, harga jagung perkwintal sebelumnya berkisar Rp 160 ribu. Namun saat ini justru turun menjadi Rp 140 ribu per kwintalnya.

Sehingga para petani mengaku tidak mampu untuk mengembalikan biaya produksi yang telah mereka gelontorkan.

“Untuk biaya produksi, kami dari biaya tanam saja hampir Rp 10 jutaan kemarin. Belum lagi mulai dari pengolahan tanah hingga pengadaan bibit” keluhnya.

Hamka mengaku, petani tidak bisa sepenuhnya berharap pada bantuan pemerintah tekait solusi atas permasalahan yang dialami. Terlebih di tengah kondisi pandemi saat ini.

“Kita mau bilang apa, kita mau ke Pemerintah, tapi karena covid-19 ini. Dalam kondisi begini ya kita cuma bisa pasrah” pungkasnya.

Memberi kejelasan terkait badai La Nina yang saat ini terjadi, Prakirawan BMKG Kediri, Anas Baihaqi mengatakan bahwa pada fase awal La Nina ini, Madden Julian Oscillation (MJO) memang berpengaruh terhadap tingginya curah hujan.

“MJO ini sangat erat kaitannya dengan besarnya anomali curah hujan di kawasan Timur lautan Hindia” jelasnya.

Sehingga saat terjadi MJO dan La Nina menjelang periode musim hujan, Lanjut Anas, maka besar kemungkinan terjadinya potensi penambahan curah hujan disuatu wilayah.

“Kita harus tetap sama-sama waspada untuk potensi-potensi yang bisa diakibatkan, seperti banjir, angin kencang, bahkan tanah longsor. Dan termasuk juga untuk beberapa sektor yang bisa saja turut terdampak, seperti pertanian” tutupnya.