Disdik Mataram Siapkan Kegiatan “Trauma Healing” Bagi Siswa

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali. (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Pendidikan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, telah menyiapkan kegiatan pemulihan trauma (trauma healing), kepada siswa saat kembali ke sekolah agar mereka tidak terlalu memikirkan tentang Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), namun tetap waspada dan mengikuti protokol pencegahan COVID-19.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali di Mataram, Rabu, mengatakan jika pemerintah mengeluarkan kebijakan kembali belajar di sekolah sesuai jadwal yang ditetapkan yakni 2 Juni 2020, sebelum belajar aktif akan dilaksanakan pemulihan trauma dari COVID-19.

“Jadi begitu masuk, siswa tidak langsung belajar. Kami bersama guru dengan berbagai kreativitas masing-masing dalam waktu sehari atau dua hari akan memberikan pemulihan trauma sekaligus memberikan motivasi kepada siswa,” katanya.

Ia mengatakan, kegiatan pemulihan trauma tersebut juga untuk mengembalikan situasi sekolah, karena saat di rumah anak-anak lebih banyak merasa takut dan khawatir.

“Karena itu, kita akan bermain untuk melupakan situasi tersebut. Kami juga berencana akan melibatkan orang tua terutama dari pasien yang sudah dinyatakan positif COVID-19, orang tanpa gejala (OTG), pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP),” katanya.

Fatwir menambahkan, apabila dalam pekan depan pemerintah sudah bisa mengambil keputusan terhadap jadwal masuk, maka Disdik segera melakukan diskusi dengan kepala sekolah guna mempersiapkan petunjuk tenis dan pelaksanaan serta tata cara siswa masuk kelas dengan tetap melaksanakan protokol pencegahan COVID-19.

“Jadi, tidak bisa serta merta masuk sekolah begitu saja,” katanya.

Ia mengatakan protokol COVID-19 yang akan diterapkan di sekolah apabila pelajar sudah diizinkan masuk sesuai dengan jadwal yang ditetapkan adalah dengan menyiapkan alat cuci tangan, siswa harus tetap menggunakan masker, menerapkan sosial dan physical distancing.

“Untuk itu, dalam kegiatan belajar di kelas siswa akan dibagi per sif. Sif pagi dan siang, jadi siswa duduknya berjarak satu meja sehingga satu kelas tidak lagi berisi 30 siswa,” katanya. (Ant)