Dishub Mataram akan Mengkaji Potensi Retribusi Parkir Insidental

Ilustrasi: salah satu titik parkir di Jalan Langko, Kota Mataram, Nusa Tenggaar Barat. (Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Perhubungan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan melakukan kajian terhadap potensi parkir insidental untuk mengoptimalkan pendapatan daerah yang bersumber dari retribusi parkir.

“Parkir insidental ini menjadi salah satu potensi  yang belum tergarap,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram M Saleh di Mataram, Kamis.

Menurutnya, parkir insidental yang dimaksudkan itu adalah parkir yang muncul karena ada kegiatan tertentu yang dilaksanakan oleh EO (event organizer) di Kota Mataram.

Semestinya, sebelum EO melaksanakan kegiatan perlu berkoordinasi dengan Dishub terkait dengan areal parkir yang akan digunakan, berapa juru parkir dan bagaimana sistem setorannya.

Apabila sudah sepakat, barulah Dishub memberikan rompi khusus bagi juru parkir insidental yang bertugas di areal kegiatan yang dilaksanakan oleh sebuah EO bersangkutan.

“Untuk juru parkir insidental kami punya rompi khusus, karenanya setelah acara selesai rompi harus dikembalikan lagi sekaligus dengan setoran parkir sesuai kesepakatan,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Saleh, untuk mulai menerapkan parkir insidental tersebut akan coba ditetapkan di Jalan Udayanan setiap Minggu saat kegiatan “car free day”. Saat ini pihaknya sedang menyiapkan kerja sama dengan PT Angkasa Pura terkait dengan pemanfaatan lahan bekas Bandara Selaparang Rembiga.

Areal bekas bandara itu akan dibuka menjadi tempat parkir insidental khusus saat kegiatan CFD agar kendaraan tidak diparkir di badan jalan yang secara otomatis menghambat arus lalu lintas.

“Jika, kerja sama ini disepakati maka penataan parkir Udayana akan lebih tertib dan terarah sebab areal parkir Mario yang ada saat ini juga tidak dapat menampung kendaraan pada Minggu,” katanya.

Menurutnya, jumlah kendaraan yang parkir saat CFD bisa mencapai 1.000 unit lebih, baik itu roda dua maupun roda empat. Karena itulah, Dishub berharap pihak Angkasa Pura bisa diajak bekerja sama.

Terkait dengan parkir “liar”, Saleh mengatakan, parkir di Udayana saat ini hampir resmi dan menggunakan rompi. Kalaupun ada yang tidak, itu karena ketersediaan rompi di Dishub yang terbatas.”Untuk rompi parkir insidental berbeda dengan rompi parkir biasa,” katanya. (Ant)