Mataram (Inside Lombok) – Harga cabai di Pulau Lombok mencapai Rp200 ribu per kilogram. Kondisi ini pertama kali terjadi selama lima tahun terakhir ini. Padahal NTB merupakan salah satu daerah penyuplai salah satu komoditas pertanian tersebut.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan kenaikan harga cabai ini juga dikeluhkan masyarakat. Bahkan di lingkungan keluarganya sendiri, Iqbal mengaku mengalami hal yang sama. “Bibi di rumah ngamuk-ngamuk ini, seperempat (kilogram) itu Rp50 ribu (harga cabai). Tidak bisa kurang cabai,” katanya, Selasa (4/3) pagi.
Pada hari pertama masuk kerja sebagai Gubernur NTB, harga komoditas pertanian ini menjadi pembahasan pertama Iqbal. “Kita minta teman-teman yang terlibat ini untuk berkontribusi,” katanya.
Ia mengatakan, dengan kondisi tersebut Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) juga meminta agar pemda mencari titik persoalannya. Pemprov NTB memberikan perhatian khusus terhadap persoalan cabai.
Intervensi pemerintah daerah terhadap kenaikan harga salah satu komoditas pertanian ini yaitu dengan melakukan operasi pasar. Selain itu, Pemprov NTB juga akan berkoordinasi dengan distributor. “Jadi kalau ada persoalan distribusi nanti kita bantu,” katanya.
Kenaikan harga kebutuhan pokok terutama cabai ini tidak hanya terjadi di NTB melainkan secara nasional. Namun untuk di NTB, harga ini disebut paling tinggi selama beberapa tahun terakhir. “Nasional mengalami situasi yang sama, tapi ada anomali data,” katanya.
Disinggung terkait indikasi adanya penimbunan, Iqbal memastikan tidak terjadi melainkan karena permintaan yang meningkat dan tidak sebanding dengan produksi. “Kita akan diminta lebih jauh kondisi ini. tenang-tenang saja Ramadan. Nanti urusan cabai kita yang urus. Kurangi juga konsumsi cabai tidak baik buat penyakit maag,” katanya.
Ia menargetkan kondisi ini bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Karena pemda juga akan memastikan kenaikan harga cabai ini juga dirasakan oleh para petani. Dikhawatirkan, kenaikan cabai ini hanya terjadi di tingkat pasar sementara murah ditingkat petani. “Ini kita akan lihat. Ini dalam waktu dekat lah. Kalau di petani harga murah dan pasar harga tinggi pasti ada masalah ini,” ucapnya. (azm)

