25.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaBerita UtamaITDC Hendak Kembangkan Pantai Tanjung Aan dengan Nilai Investasi Rp2 Triliun, Pedagang...

ITDC Hendak Kembangkan Pantai Tanjung Aan dengan Nilai Investasi Rp2 Triliun, Pedagang Tolak Digusur

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Sejumlah warga dan pemilik warung di kawasan Pantai Tanjung Aan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) menolak digusur oleh Injourney Tourism Development Corporation (ITDC) untuk pembangunan beach club dan hotel mewah. ITDC sebagai pengembangan kawasan sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan investor, dengan nilai investasi capai Rp2 triliun untuk pembangunan lahan seluas 10 hektare.

Salah satu pemilik warung, Inang mengatakan ia bersama warga di sekitar Pantai Tanjung Aan menolak untuk digusur. Mereka juga menolak untuk membongkar warung milik mereka meski sudah diberikan batas waktu hingga 28 Juni 2025. “Janganlah gusur kami. Di mana kami akan cari hidup, kami akan tetap bertahan sebelum ada tindakan dari pihak ITDC, kalau ada upaya gusur kami akan bertahan dan lawan,” ujarnya, Sabtu (28/5) di Pantai Tanjungan Aan.

Menurutnya, Pantai Tanjung Aan tidak perlu dibangunkan fasilitas modern seperti beach club dan hotel mewah, karena warga sanggup menjaga dan mengelola Pantai Tanjung Aan. Menurutnya para wisatawan asing yang datang menikmati keindahan Pantai Tanjung Aan karena dijaga oleh masyarakat. “Turis ini datang ke sini karena kami-kami yang ada di sini, bukan karena ITDC. Jauh sebelum ITDC ada, jadi kami-kami yang mengembangkan pariwisata di sini,” tegasnya.

Menurutnya, pilihan ITDC untuk mengembangkan resort dan beach club di Pantai Tanjung Aan sangat keliru dan salah. Lantaran para wisatawan justru datang ke Lombok Tengah dan Pantai Tanjung Aan untuk menikmati pantai yang masih natural. “Para turis sudah tahu masalah penggusuran ini mereka tidak mau juga digusur, kalau mereka (turis) mau ke beach club atau hotel mewah mereka tidak akan datang ke Lombok mereka akan ke Dubai, mereka suka yang natural,” tuturnya.

Adi Wijayanti, salah satu warga Tanjung Aan juga menolak untuk digusur oleh ITDC karena alasan apapun. Ia menyebut ada sekitar 180 warung dan ratusan pedagang yang mencari nafkah di kawasan Tanjung Aan yang datang dari desa tetangga. “Bukan warga Tanjung Aan saja yang cari nafkah di sini ada banyak orang luar juga desa tetangga, kalau ada penggusuran kita harus bertahan, kita rame-rame berkumpul di sini,” ujarnya.

Adi membantah pernyataan General Manager The Mandalika, Wahyu Moerhadi Nugroho yang menyatakan ada warga yang sudah mulai membongkar warung di kawasan Tanjung Aan secara sukarela. “Tidak ada warga yang mulai membongkar warung, itu hanya dia mau ganti atap saja itu yang dianggap bongkar sukarela, kalau itu dibongkar kenapa orang-orang ini masih ada,” katanya.

Sebelumnya, GM The Mandalika Wahyu Nugroho mengatakan, sejak tanggal 14 pihaknya mengklaim warga sudah mulai melakukan pengosongan secara mandiri. “Sedang berlangsung alat berat dari investor di lapangan sudah mulai land clearing,” katanya.

Wahyu menyebut, pengembangan kawasan Tanjung Aan nantinya akan dibangun hotel mewah yang sudah dilakukan LUDA dengan Investor. “Untuk yang sudah bekerjasama nilai investasi sampai dengan Rp2 triliun dengan luas lahan 10 hektare,” tandasnya. (fhr)

- Advertisement -

Berita Populer