Kampus Merdeka Diharapkan Jadi Solusi Atasi Krisis Literasi Numerasi di NTB

Ketua Asosiasi LPTK NTB, Prof. Dr. H. A Wahab Jufri saat membuka kegiatan Simposium Desain Perguruan Tinggi dalam Mengimplementasikan MBKM yang digelar secara daring, Kamis (2/9/2021) kemarin. (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Hingga saat ini tingkat literasi dan numerasi masyarakat di NTB masih sangat rendah.

Berdasarkan survei dalam Kajian AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia) tahun 2019, literasi NTB berada di urutan ke 33 dari 34 provinsi di Indonesia.

Akar persoalan ini dinilai dari pendidikan dasar yang belum sepenuhnya menerapkan pentingnya literasi dan numerasi. Sehingga, peningkatan mutu sumber daya pendidik menjadi faktor yang sangat penting saat ini, karena pendidik memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa.

“Berdasarkan survey, pengaruh guru terhadap peningkatan literasi dan numerasi ini dua sampai tiga kali lebih besar dibandingkan faktor yang lain,”kata Deputy Directur System and Policy INOVASI, Joanne Dowling dalam sambutannya pada kegiatan Simposium Desain Perguruan Tinggi dalam Mengimplementasikan MBKM yang digelar secara daring, Kamis (2/9/2021).

Berangkat dari fakta tersebut, semua pihak diharapkan berpartisipasi di dalam memacu peningkatan literasi dan numerasi ini. Salah satunya dengan pengembangan kompetensi guru melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Karena perguruan tinggi memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kampus Merdeka sendiri ini merupakan wujud pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Salah satu contoh penerapan program merdeka belajar-kampus merdeka adalah hak belajar tiga semester di luar program studi. Mahasiswa diberikan kebebasan mengambil SKS di luar program studi yang sedang mereka tempuh.

Inovasi untuk Anak Indonesia (INOVASI) NTB program kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia mendukung penerapan MBKM yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan menghubungkan LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) se-NTB dengan pihak lain yang ada di dalam jejaring INOVASI.

Sementara itu, Ketua Asosiasi LPTK NTB, Prof. Dr. H. A Wahab Jufri saat membuka kegiatan Simposium tersebut menyebut, ada 17 LPTK yang terbentuk sejak tahun 2019.
LPTK dibentuk untuk bergerak bersama sebagai lembaga pendidikan yang mendidik calon pendidik masa depan. Sehingga dapat memiliki persamaan persepsi, maksimalkan tata kelola dan perencanaan pendidikan para calon guru.

“Pola penyelenggaraan pendidikan calon guru diharapkan dilakukan dengan kualitas terjamin,”imbuhnya.

Adapun kegiatan simposium tersebut dihajatakan untuk memfasilitasi LPTK se NTB untuk bergerak bersama di dalam pengimplementasian MBKM. Sehingga bisa terlaksana dengan baik untuk para calon pendidik.