Kekeringan di NTB Tidak Pengaruhi Penyerapan Pupuk Bersubsidi

Sejumlah buruh menurunkan pupuk dari atas kapal yang sandar di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, NTB. (Inside Lombok/ANTARA/Awaludin)

Mataram (Inside Lombok) – Kepala Kantor Pemasaran Pupuk Kaltim Wilayah Nusa Tenggara Barat Slamet Mariyono mengatakan kekeringan yang melanda sejumlah kabupaten di provinsi wilayah kerjanya tidak mempengaruhi penyerapan alokasi pupuk urea bersubsidi.

“Sampai saat ini tidak ada masalah dalam penyaluran pupuk bersubsidi di 10 kabupaten/kota di NTB,” kata Slamet, di Mataram, Kamis.

Ia menyebutkan tidak adanya pengaruh kekeringan terhadap penyerapan pupuk urea bersubsidi dibuktikan dengan serapan alokasi pada Juli sebanyak 6.976 ton atau sebesar 91 persen dari total alokasi sebanyak 7.659 ton di bulan tersebut.

Menurut Slamet, masih relatif tingginya permintaan pupuk urea bersubsidi pada musim kemarau disebabkan adanya aktivitas usaha tani jagung, terutama di Pulau Sumbawa. Selain itu, para petani yang memiliki sawah dengan irigasi teknis tetap menanam padi meskipun musim kemarau.

“Penyerapan pupuk urea bersubsidi pada Juli sebagian besar di Pulau Sumbawa karena berkaitan dengan musim jagung. Kalau di Pulau Lombok, musim tembakau dan cabai, serta tanaman padi masih ada, khususnya sawah irigasi teknis,” ujarnya.

Secara keseluruhan, kata dia, penyerapan alokasi pupuk bersubsidi di NTB sudah mencapai 97.846 ton hingga 11 Juli atau sebesar 60 persen dari total alokasi yang diberikan oleh Kementerian Pertanian pada 2019 sebanyak 161.290 ton.

Slamet juga menjamin stok pupuk urea bersubsidi tetap aman hingga memasuki musim tanam padi yang diperkirakan mulai Oktober-November 2019. Stok yang tersedia di seluruh gudang saat ini sebanyak 24.833 ton. Jumlah tersebut mampu untuk memenuhi kebutuhan hingga tiga bulan ke depan.

Stok tersebut akan terus bertambah karena sudah ada kapal yang bongkar muat pupuk urea curah sebanyak 7.000 ton di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada juga kapal yang bongkar muat sebanyak 6.000 ton pupuk urea kemasan di Pelabuhan Bima, dan sebanyak 6.600 ton di Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.

Ia menambahkan pihaknya juga akan menggenjot penyaluran pupuk urea bersubsidi pada Agustus agar realisasi penyaluran bisa mencapai 80 persen sehingga NTB memperoleh realokasi atau tambahan jatah pupuk urea bersubsidi dari Kementerian Pertanian pada 2019.

Rencana tersebut sudah dibahas dengan seluruh distributor di kabupaten/kota yang menjadi mitra Kantor Pemasaran Pupuk Kaltim Wilayah NTB.

“Kami berharap NTB dapat tambahan alokasi pupuk urea bersubsidi karena kuota yang diberikan sebanyak 161.290 ton pada 2019 lebih rendah dari realisasi penyaluran tahun sebelumnya sebanyak 179.815 ton,” kata Slamet. (Ant)