Kementan Perkuat Fungsi Puluhan Lumbung Pangan di NTB

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan NTB, Ibnu Fiqhi. (Inside Lombok/ANTARA/Awaludin.)

Mataram (Inside Lombok) – Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,32 miliar untuk memperkuat fungsi sebanyak 22 lumbung pangan modern atau permanen yang dikelola gabungan kelompok tani di Nusa Tenggara Barat.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB, Ibnu Fiqhi, di Mataram, Selasa menyebutkan masing-masing gabungan kelompok tani (gapoktan) pengelola lumbung pangan modern memperoleh bantuan dana sebesar Rp60 juta.

“Dana dari APBN tersebut dikelola untuk pembelian gabah sebagai cadangan pangan sebesar 60 persen. Sisanya 40 persen dikelola untuk modal usaha,” katanya.

Selain dana APBN, kata dia, Pemerintah Provinsi NTB juga mengalokasikan dana APBD untuk 10 lumbung pangan modern. Masing-masing lumbung pangan mendapat Rp12 juta, namun dalam bentuk gabah sebagai cadangan pangan.

Gapoktan yang akan memperoleh bantuan dana dari Kementan, dan Pemerintah Provinsi NTB merupakan usulan dari kabupaten/kota yang sudah terverifikasi oleh tim Dinas Ketahanan Pangan NTB.

“Yang diberikan bantuan dana penguatan merupakan gapoktan yang sama sekali belum pernah memperoleh bantuan dana dari pemerintah. Makanya, kami memverifikasi usulan dari kabupaten/kota,” ujarnya.

Fiqhi menyebutkan jumlah lumbung pangan modern di NTB sekitar 300 unit. Seluruhnya tersebar di 10 kabupaten/kota, yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima.

Sebagian besar gapoktan pengelola lumbung pangan sudah mendapatkan bantuan sosial dari Kementan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan, khususnya di perdesaan.

Ia menambahkan pihaknya tetap memonitor dan mengevaluasi terhadap pemanfaatan dana bantuan untuk memastikan bantuan tersebut benar-benar dimanfaatkan sesuai dengan aturan.

“Keberadaan lumbung pangan juga berperan dalam menjaga keamanan stok pangan di tingkat perdesaan, terutama pada saat para petani membutuhkan pangan dalam keadaan tertentu, seperti bencana alam dan menunggu musim panen tiba,” kata Fiqhi. (Ant)