Lingkok Beleq, Situs Perayaan Lebaran Ketupat di Batulayar yang Nyaris Terlupakan

79
Kondisi Lingkok Belek, mata air yang ada di dusun Batulayar Selatan yang menjadi situs perayaan lebaran ketupat di Batulayar. (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Batulayar seolah menjadi ikon yang selalu dituju masyarakat setiap kali perayaan lebaran ketupat. Tidak hanya bagi warga Lombok Barat, tetapi juga hampir dari seluruh penjuru Lombok.

Terlepas dari perayaan itu, ada situs bersejarah dalam perayaan lebaran ketupat yang dilakoni oleh orang Batulayar asli pada zaman dahulu yang justru terlupakan. Di mana biasanya sebelum berziarah ke makam, mereka selalu memulai perayaan lebaran ketupat dengan mandi dan berwudhu di Lingkok Beleq, salah satu situs budaya yang ada di sana.

Lokasi Lingkok Beleq yang merupakan sumur mata air ini pun sebenarnya tidak jauh dari jalan raya. Namun, tidak adanya plang sebagai penanda membuat keberadaannya nyaris tidak diketahui sebagian besar masyarakat. Padahal situs budaya tersebut adalah salah satu yang wajib dikunjungi sebagai rangkaian perayaan lebaran ketupat di Batulayar.

“Situs ini memang masih ada, tapi tidak terawat,” ujar Camat Batulayar, Afgan Kusuma Negara saat menyambangi Lingkok Beleq di momen lebaran ketupat, Senin (09/05/2022) kemarin.

Ia pun berharap dalam perayaan lebaran ketupat ke depannya, bisa diadakan napak tilas bagaimana tradisi asli yang dilakukan masyarakat pada zaman dahulu. “Jadi napak tilas mulai dari mandi dan berwudhu di Lingkok Beleq, setelah itu jalan untuk ziarah ke makam yang jaraknya kurang lebih 100 meter. Baru lah kemudian kita ke pantai,” terangnya.

Tak bisa dipungkiri, perayaan lebaran ketupat beberapa tahun terakhir diakuinya memang berbeda dari yang dilakukan masyarakat terdahulu. Bahkan, masyarakat Batulayar sendiri pun kini jarang memulai perayaan lebaran ketupat dengan mandi di Lingkok Beleq tersebut.

“Namun beberapa tahun terakhir yang kita lakukan malah naik cidomo ke makam, tanpa mandi dulu di Lingkok Beleq,” imbuh Afgan.

Saat mendampingi Inside Lombok untuk mengunjungi situs tersebut, pihak kecamatan pun mengakui bahwa kondisinya kini kurang terawat. Dari jalan raya tidak ada plang penunjuk arah, bahkan di kawasan Lingkok Beleq itu juga tidak dipasangkan penanda.

Hal itu membuat banyak masyarakat luar yang hendak berkunjung ke sana justru tersesat. Kendati memang masih ada sebagian masyarakat yang tetap datang berkunjung ke sana. Entah hanya untuk mandi ataupun berwudhu.

Pada perayaan lebaran ketupat kemarin pun terlihat beberapa pengunjung yang datang bersama keluarganya untuk berwudhu atau sekedar cuci muka dan menabur kembang di tepi sumur mata air tersebut.

“Ini sekarang tidak ada yang kelola, jadi kita harapkan ke depannya agar pihak desa bisa mengelolanya,” pesan Afgan.

Selain itu, pihaknya berharap Dinas Pariwisata Lombok Barat dapat mendukung lokasi mata air itu sebagai salah satu situs budaya lokal. “Bisa diberikan semacam deskripsi dan gambaran, bagaimana tahapan-tahapan dari ziarah makam ini,” lanjutnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Sajidin, warga asli Batulayar pun menuturkan bagaimana ia sejak kecil selalu diajak mandi dan berwudhu di Lingkok Beleq sebelum berziarah makam.

“Kita biasanya ke Lingkok mandi, kemudian setelah itu baru ke makam ziarah. Orang tua kita dulu mandi di Lingkok Beleq ini kan untuk membersihkan diri dan mengharapkan berkah,” ujar Sajidin menceritakan kenangan masa kecilnya.

Kini, ritual mandi dan berwudhu di situs bersejarah dalam perayaan lebaran ketupat itu pun diakuinya masih dilakukan oleh sebagian masyarakat. Namun, cenderung tidak terekspos. Sehingga jarang masyarakat luas yang mengetahui tradisi asli yang dilakukan masyarakat Batulayar saat lebaran ketupat.

Terlebih seremonial lebaran ketupat yang dilakukan Pemda pada perayaan sebelum-sebelumnya pun melompati tradisi yang dilakukan di Lingkok Beleq tersebut oleh orang tua terdahulu. Kondisi ini cukup disayangkan, mengingat warisan budaya merupakan salah satu aset penting suatu daerah yang harus tetap dijaga. (yud)