Mengenal Balai Kopied: Lahir dari Pandemi, Lahirkan Wirausahawan Kopi

30
Mohammad Ali saat meracik kopi di Balai Kopied, Selasa (21/06/2022) (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Kopi merupakan salah satu minuman favorit bagi sebagian orang, juga menjadi salah satu suguhan utama dalam menjamu para tamu. Namun pandemi Covid-19 yang sempat merebak hingga membatasi pergerakan masyarakat, termasuk untuk menikmati kopi.

Hal itu salah satunya dialami Muhammad Ali, pecinta kopi yang merasa dilema saat Covid-19 melanda dunia. Pasalnya, kafe yang menjadi lokasi tongkrongan favoritnya pun terpaksa ditutup dan bahkan ia juga tak jarang diusir dari lokasi.

Melihat tidak adanya tempat ngopi, Ali pun mulai mencetus gagasan mendirikan Balai Kopied (Kopi Edukasi). Dari tempat ini ia kemudian mulai serius mempelajari seluk-beluk kopi, mulai dari penanaman hingga biji kopi itu sendiri.

“Dari tempat yang saya buat dengan teman, kami berhasil menciptakan kopi dan ternyata lah kok enak, maka kami mulai membuat suatu brand rasa seperti Kopi Buatan Mertua, Buatan Istri, Kopi Rasa Mantan dan banyak lagi. Karena mantan itu sepahit kopi. Nah jadi itu filosofi salah satu brand andalan kami,” tutur Ali yang juga berprofesi sebagai dosen di Unham saat ditemui di Balai Kopied, Selasa (21/06).

SEtelah brand berhasil dibuat, Ali kemudian mencoba mengembangkan apa yang dimilikinya dan dijadikan instrumen pembelajaran di kampus tempatnya mengajar. Terlebih saat ini adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang salah satunya adalah magang.

“Dari sana kita buka program magang di sini (Balai Kopied-red). Kurikulumnya sangat padat karena kita mulai ajarkan dari sejarah kopi, filosofi kopi dan lainnya,” jelasnya.

Ide-ide kemudian semakin bermunculan dan berpotensi menjadi bisnis, yakni tercetusnya brand Kopang (Kopi Panggilan), di mana dalam konsep Kopang ini Balai Kopied tidak hanya melayani hidangan kopi di lokasi saja. Namun juga melayani kopi panggilan ke lokasi-lokasi kegiatan pelanggan.

“Jadi anak-anak ini nanti datang mengunjungi pelanggan untuk melayani di tempatnya. Nanti kita ke sana dengan membawa alat-alat, karena kopi yang kita sediakan yakni seperti kopi Arabica, Espresso, Robusta dan banyak lagi,” ungkapnya.

Bisnis Kopang ini menurutnya sangat menjanjikan, terlebih berapa banyak acara resepsi atau kegiatan lain yang tidak menyediakan kopi. Sehingga hal itu kemudian dimaksimalkan agar Kopang dapat menjadi andalan untuk menyiapkan kopi di berbagai acara.

“Ini bisa jadi bisnis massal bagi para anak muda, dan ekosistemnya saat ini sudah kita buat maka anak-anak muda bisa mulai berbisnis dengan kopi,” ujarnya.

Ali juga membuat pelatihan dengan anak-anak muda tentang cara penyajian dan pengolahan kopi, pada saat akhir masa pelatihan para anak didik kemudian ditawarkan kerjasama berupa franchise dan kemitraan.

“Jadi nanti kalau kemitraan anak muda hanya menyiapkan tempat dan untuk alat dan bahan kami akan suplai langsung, nanti tinggal kita bagi hasil saja,” katanya.

Terobosan yang dicetus Ali ini diharapkan dapat menjadikan anak-anak muda menjadi wirausahawan. Karena bisnis kopi diakuinya tidak butuh modal yang banyak dan juga tempat yang luas, sehingga cocok dijadikan sebagai usaha. (den)