Pariwisata Halal di NTB Masih Kekurangan Sarpras Pendukung

20
Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, Lalu Hasbulwadi (inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – NTB dikenal sebagai the second of Bali karena pariwisatanya. Banyak destinasi wisata yang cukup menarik wisatawan, bahkan NTB termasuk sebagai daerah pariwisata halal. Namun sayangnya gaung pariwisata halal masih kurang, lantaran sarana dan prasarana yang terbilang belum memadai.

Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, Lalu Hasbulwadi menyebutkan pariwisata halal di NTB terus digaungkan sebagai bagian dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan beberapa daerah juga sudah berkunjung untuk belajar tentang tata kelola wisata halal NTB. Karena itu amanat Perda Nomor 2/2016 tentang pariwisata halal.

“Terus kita gaungkan dengan berbagai stakeholder agar pariwisata halal nantinya dapat memenuhi target kunjungan pariwisata kita. Tidak hanya turis muslim tapi juga non muslim,” ungkap Hasbulwadi, Jumat (25/11).

Selain itu, pihaknya juga tengah mengintegrasi konsep CHSE bagi seluruh usaha pariwisata dan friendly moslem tourism. Sehingga pariwisata halal di NTB semakin banyak dikenal oleh wisatawan. Di mana pengembang-pengembang konsep juga perlu dilakukan, tidak hanya sebatas sosialisasi saja.

“Kita terus melakukan sosialisasi dan integritas dengan pihak stakeholder untuk mengembangkan konsep-konsep wisata halal ini sehingga diterima oleh semua pihak,” ucapnya.

Untuk gaungnya apa kurang sehingga tidak terdengar kabarnya? Hasbulwadi mengakui, memang ini menjadi tugas semua pihak untuk menggaungkan. Apalagi pada masa pandemi dua tahun belakangan tidak bisa berbuat banyak untuk kebangkitan pariwisata NTB. Terutama dalam sertifikasi usaha pariwisata yang berbasis sertifikasi halal.

“Tahun-tahun berikutnya kita coba genjot kembali untuk mensertifikasi halal khusus usaha pariwisata kita. Mulai dari hotel sampai dengan tempat SPA memiliki sertifikasi halal, kita yang sudah baru 2 ribuan usaha pariwisata sertifikat berbasis halal,” jelasnya.

Sedangkan dari segi sarana dan prasarana memang belum memenuhi. Karena memang ada standar minimal yang harus dimiliki oleh usaha pariwisata. Contoh saja di hotel, masih banyak yang tidak punya arah kiblat, Al-Quran dan pendukung lainnya untuk memenuhi sarana pendukung pariwisata halal.

“Minimal memiliki sarana prasarana yang mendukung pariwisata halal. Supaya ini semakin berkembang. Wisata halal ini betul-betul implementatif, agar sarana minimal untuk dikatakan pariwisata halal itu ada,” pungkasnya. (dpi)