Pemdes Bengkaung Butuh Solusi Atasi Polusi dari Produksi Arang

Lombok Barat (Inside Lombok) – Pemerintah Desa Bengkaung berharap Pemda juga turut terlibat dalam membantu mereka mencari solusi atas persoalan polusi. Menyusul banyaknya keluhan dari desa tetangga terkait polusi yang dihasilkan dari industri produksi arang yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warganya.

“Karena permintaan pasar untuk arang ini besar, jadi volume asap dari proses pembakarannya menyebabkan polusi yang sampai dikeluhkan desa tetangga” ungkap Kades Bengkaung, H. Faizul Bayani, Rabu (27/04/2021).

Pihak desa mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk mengatasi persoalan itu. Salah satunya, warga dilarang membakar pada kondisi-kondisi tertentu.

“Kita sudah mengupayakan berbagai tindakak preventif termasuk mengalokasikan anggaran untuk mengatasi persoalan ini, tapi kita juga tetap butuh bantuan dari Pemda,” ungkapnya.

Mengingat 50 persen dari 250 jumlah KK yang ada di Desa Bengkaung Tengah itu mengandalkan produksi arang sebagai mata pencahariannya. Bahkan mereka sudah menekuninya selama puluhan tahun lamanya.

“Kalau produksi arang ini dihentikan, maka akan ada 150 KK warga kami yang akan kehilangan mata pencahariannya” ujar dia.

Pihak desa diakuinya harus mencari celah anggaran supaya ada solusi. Agar warganya tetap bisa melanjutkan produksi arang itu dan desa tetangga tidak terganggu polusi asap lembakarannya.

Sehingga penganggaran fasilitas sarpras pembakaran arang itu rencananya akan dialokasikan melalui dana BUMDes. Di mana fasilitas itu diharapkan dapat membantu mengurangi volume asap dari proses produksi itu.

“Dananya kami anggarakan langsung dari BUMDes, InsyaAllah setelah lebaran itu bisa kita eksekusi untuk sarana dan prasaran (Sarpras) pembakaran arang ini” terang dia.

Anggaran sebesar Rp 30 juta yang awalnya akan dialokasikan untuk trigona, kini harus dialihkan untuk penyediaan sarpras tersebut terlebih dahulu. Hal itu untuk dapat mengakomodir berbagai komplain mengenai polusi asap produksi arang yang datang dari desa tetangga.

Sehingga dalam hal ini, pihaknya berharap Pemda juga dapat terlibat dalam membantu pihak desa menyelesaikan persoalan ini.

“Hal ini juga sudah kami coba komunikasikan dengan Pemda. Kami juga sudah lakukan mediasi atas keluhan-keluhan yang disampaikan oleh desa tetangga” tandas Faizul.