Pemdes Meninting Pakai Dana Desa Beli Alat Pengangkut Sampah

315
Tampak petugas penangkut sampah di Meninting tengah mengangkut sampah, dengan armada yang dibeli menggunakan Dana Desa (DD). (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Pemerintah Desa (Pemdes) Meninting, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat berinisiatif untuk membeli kendaraan pengangkut sampah dari Dana Desa (DD) yang mereka miliki. Harapannya, persoalan sampah di desa ini dapat segera teratasi.

Ini sebagai salah satu upaya untuk mengatasi persoalan sampah. Tanpa harus mengandalkan kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang terbatas dan tidak bisa untuk melayani seluruh wilayah Lobar, termasuk Meninting.

“Karena kita tidak bisa mengandalkan armada dari DLH saja, karena jelas itu tidak mencukupi untuk menangani sampah di semua desa” ungkap Kades Meninting, H. Iskandar Zulkarnain, saat dihubungi melaui sambungan telepon, Jum’at (13/11/2020).

Sistem pelayanan penjemputan sampah oleh petugas dengan menggunakan armada milik desa tersebut, kata dia, tidak memungut biaya apapun dari masyarakat. Sehingga setelah beroperasinya armada tersebut selama 6 bulan terakhir ini, masyarakat Meninting pun sudah tidak lagi kebingungan kemana harus membuang sampah rumah tangga mereka.

“Sebenarnya usulan untuk membeli kendaraan untuk mengangkut sampah menggunakan DD ini sudah kita ajukan sejak tahun 2017 lalu” ungkapnya.

Namun, waktu itu usulan tersebut belum dapat terealisasi karena terbentur aturan. Sehingga pihaknya kembali mengajukan, lanjutnya, dan pihaknya memperoleh izin di tahun 2020 ini karena adanya perubahan aturan dan memperbolehkan usulan pembelian armada tersebut. Sehingga pelayanan itu baru dapat terealisasi selama 6 bulan terakhir.

“Mobil sampah itu rutin, setiap hari berkeliling ngambil sampah rumah tangga yang ada di dusun-dusun” ujarnya bangga.

Dari jumlah warga di desa Meninting yang sekitar 1.890 KK, semua harus terlayani. Sehingga setiap dusun dijatahkan seminggu sekali untuk pengangkutan sampah rumah tangga warganya. Sebelum petugas datang menjemput, papar Zulkarnain, masyarakat diharuskan untuk membungkus sampah mereka menggunakan karung. Lalu sampah tersebut harus dikumpulkan di lokasi yang telah ditentukan oleh kepala dusun (Kadus) masing-masing.

“Baru kemudian, petugas akan mengangkut sampah-sampah itu dan dibuang ke TPA Kebon Kongok” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa armada pengangkut sampah milik desa tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp 150 juta dari Rp 1,5 miliar jatah DD yang diterima Meninting. Dengan biaya operasional bulanan program pengangkutan sampah tersebut sekitar Rp 2 juta.

“Rinciannya itu, Rp 700 ribu untuk beli bensin dan Rp 1,3 juta itu untuk honor sopir dan kernetnya. Itu sopirnya dapat Rp 500 ribu dan kernetnya ada dua orang, jadi masing-masing Rp 400 ribu” papar Kades Meninting ini.

Jika dipresentasikan, kata dia, biaya untuk program tersebut sekitar 1,5 persen dari DD yang dimiliki desa. Karena biaya operasional untuk perbulannya sekitar Rp 2 juta, yang bila dikalkulasikan. Maka selama satu tahun sekitar Rp 24 juta.

“Itu bisa dikatakan masih kecil jika dipresentasikan dengan jumlah DD yang sekitar Rp 1,5 miliar itu”  tandasnya.

Ia pun menilai, bahwa desa-desa lainnya di Lombok Barat juga seharusnya dapat melakukan hal serupa untuk mengatasi permasalahan sampah.

“Sampah itu sebelum dibawa ke TPA, dipilah dulu, kalau masih ada sampah yang bisa didaur ulang, ya itu akan kita olah. Jadi sampah yang dibuang itu adalah sampah yang tidak bisa didaur ulang. Ini salah satu cara untuk mengurangi volume sampah juga” pungkas Zulkarnain.