Pemkot Harapkan Revitalisasi Bale Kambang Kembali ke Bentuk Semula

Kondisi Bale Kambang di Taman Mayura, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, yang roboh diterjang angin kencang pada Sabtu (14/12-2019). (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, berharap agar kegiatan revitalisasi Bale Kambang di Taman Mayura, Kecamatan Cakranegara, yang roboh diterjang angin kencang dapat dikembalikan ke bentuk semula.

“Salah satunya pada bagian atap yang harus tetap menggunakan ijuk, agar nilai-nilai sejarahnya juga bisa betul-betul dikembalikan,” kata Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram Lalu Martawang di Mataram, Selasa.

Menurutnya, sekitar tahun 2005 Bale Kambang sudah dilakukan revitalisasi untuk penggantian atap dari ijuk menjadi genting, sehingga bebannya menjadi berat dan tidak mampu bertahan ketika terjadi angin kencang.

Ketika terjadi angin kencang pada Sabtu (14/12) sekitar pukul 14.40 Wita, katanya, pihaknya bersama beberapa aparat terkait langsung melakukan peninjauan lokasi.

Namun demikian, pendekatan untuk penanganan tempat bersejarah dan sudah menjadi cagar budaya tidak sama dengan tempat lainnya yang bisa dibersihkan langsung.

Terkait dengan itu, saat itu juga pemerintah kota telah meminta Kabag Ops Polresta Mataram memasang garis polisi agar seluruh puing-puing di sana tidak boleh ada yang dipindahkan dan areal tersebut diminta untuk dikonci.

“Pada hari yang sama, kami juga langsung menghubungi pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Denpasar-Bali dan hari Minggu (15/12), tim mereka turun langsung melakukan asesmen terhadap kerusakannya,” katanya.

Namun sampai saat ini, pemerintah kota belum menerima laporan resmi hasil asesmen dari tim asesmen Balai Pelestarian Cagar Budaya Denpasar-Bali.

Laporan hasil asesmen itu, sambungnya, akan menjadi bahan untuk intervensi lebih lanjut. Apalagi, kalau ada bantuan anggaran dari pemerintah pusat akan sangat membantu.

“Pasalnya, anggaran revitalisasi di kami belum ada sehingga diharapkan ada anggaran dari Balai Cagar Budaya sebab masih tanggung jawab dari Dirjen. Tapi kita tidak boleh lepas tangan,” katanya.

Oleh karena itu, pemerintah kota dalam hal ini tetap menunggu hasil asesmen dan alternatif-alternatif yang akan dilakukan oleh pihak Balai Cagar Budaya terhadap bangunan bersejarah tersebut.

“Harapannya, sebelum dilakukan renovasi ada dialog antara pemerintah kota dengan Balai Cagar Budaya untuk memastikan pembangunannya kembali sesuai dengan keasliannya,” ujarnya. (Ant)