25.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaBerita UtamaPenutupan Total Jalur Pendakian Rinjani Tuai Protes, Pelaku Wisata Buka Akses Jalur...

Penutupan Total Jalur Pendakian Rinjani Tuai Protes, Pelaku Wisata Buka Akses Jalur Aman

Lombok Timur (Inside Lombok) – Keputusan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menutup seluruh jalur pendakian mulai 1 hingga 10 Agustus 2025, menyusul rentetan insiden kecelakaan pendaki yang terjadi beberapa waktu terakhir, menuai kritik keras dari pelaku wisata dan masyarakat sekitar. Kebijakan tersebut dinilai terlalu drastis dan memberikan dampak besar terhadap perekonomian warga yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata Rinjani.

Forum Wisata Lingkar Rinjani (FWLR) menjadi salah satu pihak yang menyuarakan protes. Ketua FWLR, Royal Sembahulun menilai keputusan BTNGR tidak mempertimbangkan jalur-jalur yang masih aman untuk pendakian. “Kami memahami perlunya perbaikan jalur, tetapi menutup semua akses tanpa membuka kuota ke jalur yang relatif aman jelas merugikan banyak pihak,” ujarnya di Sembalun, Rabu (23/7).

Ia juga menuding pemerintah kurang peka terhadap dampak ekonomi yang timbul dari kebijakan tersebut. “Pemerintah seakan-akan tidak merasakan bagaimana ribuan orang kehilangan sumber pendapatan mereka,” tegasnya.

Penutupan ini memberi pukulan telak pada sektor pariwisata. Koordinator Asosiasi Pemandu Gunung Rinjani (APG), Rizal menyebut ribuan orang terdampak langsung oleh kebijakan ini. “Lebih dari 200 trekking organizer berhenti beroperasi. Porter, pemandu, pengemudi transportasi, hingga pedagang kecil semuanya kehilangan pemasukan. Ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi soal kelangsungan hidup masyarakat,” ujarnya.

Seorang pemilik usaha Trekking Organizer yang enggan disebutkan namanya menambahkan, penutupan mendadak seperti ini membuat banyak pelaku usaha merugi karena pembatalan paket pendakian dari wisatawan. Para pelaku wisata meminta BTNGR membuka jalur-jalur utama yang relatif aman, seperti rute Sembalun–Puncak–Sembalun dan Senaru–Pelawangan Senaru–Senaru, sambil menunggu perbaikan jalur menuju Danau Segara Anak.

Pemandu senior, Padil menegaskan jalur-jalur tersebut merupakan rute favorit pendaki internasional dan secara umum masih layak untuk digunakan. “Kami mendukung penuh perbaikan jalur, tapi jangan sampai semua akses ditutup. Kami siap membantu proses perbaikan sambil memastikan keselamatan wisatawan,” ujarnya.

Menanggapi protes tersebut, Kepala BTNGR Yarman menegaskan bahwa penutupan sementara ini bertujuan untuk mengevaluasi jalur dan memperkuat aspek keselamatan pendakian. “Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi rapat koordinasi dengan kementerian terkait. Keselamatan pendaki adalah prioritas utama kami,” jelasnya.

Selama masa penutupan, BTNGR akan melakukan penilaian kondisi jalur, pemasangan peralatan keselamatan, dan pembenahan prosedur tanggap darurat. Bagi pendaki yang sudah memesan tiket, BTNGR menawarkan reschedule atau pengembalian dana penuh. Yarman berharap, langkah ini dapat meningkatkan standar keamanan dan memberikan pengalaman pendakian yang lebih aman di masa mendatang. (den)

- Advertisement -

Berita Populer