Wasiat – Cerpen Wahyu Sastra

152
Ilustrasi Nuraisah Maulida Adnani

Entah hari apa, saya lupa. Ayah saya, laki-laki renta dengan sorban yang menyisir tanah, duduk bak seorang resi di tikar pandan teras rumah. Jari-jemari sibuk membilang tasbih. Mulut komat-kamit dengan lapas zikir. Kesederhanaan membuat raut mukanya nampak ganjil. Entah kenapa, saya begitu kagum melihatnya selarut ini. Sedikit lagi pagi, benak saya. Ada apa ia memanggil?

***

Saya mengambil tempat, tepat di sisi bantal lusuh, di mana selalu saja pantatnya ia simpan di sana, menopang kezuhudan hidup dan tak ketertarikannya pada segala yang empuk: sofa, kasur, atau apa saja yang saya sukai untuk merebahkan diri di atasnya.

Dihisapnya dalam-dalam tembakau yang terbungkus daun jagung. Agak hitam. Dibelinya di pasar kampung setiap Kamis seharga seribu rupiah. Dicampur madu, sedikit. Dan beberapa bulir potongan cengkeh. Membuatnya agak susah diplintir daun jagung, tembakau yang paling digemarinya. Jika dingin terlalu, maka akan diolesinya lintingan itu dengan minyak angin. Entah buat apa.

Tentu saja, almarhum ibu tidak pernah suka jika daun laknat itu terselip dalam keranjang belanjaan. Kalau sempat, maka akan dibelanjakannya saja uang ayah buat lauk segala. Tapi ayah tak pernah murka, sebab selalu disisanya sedikit di bawah bantal. Selalu.

“Yang kau butuhkan dalam hidup adalah hal-hal sederhana, anakku,” kata ayah tiba-tiba, sambil menghembus asap dari mulutnya.

“Jika ia berupa harta benda, yang kau butuhkan secukupnya saja. Asal cukup menjelaskan kepadamu betapa sedikit kebutuhanmu sehingga jika kelebihannya sedang menjadi milikmu, itu pasti bukan karena kebutuhanmu, melainkan karena kersayasan kita.

“Jika ia berupa ilmu pengetahuan, cukuplah ilmu yang mengajarimu tentang kebodohanmu sendiri. Bahwa apapun yang kau pelajari, pasti cuma untuk menegaskan kebodohan kita sendiri. Bahwa jika saja semua isi kepalamu kau buka dan kau tadahkan, ia tak kan sanggup menampung seluruh pengetahuan semesta raya.”

“Janganlah berbangga diri, anakku. Mentang-mentang berilmu. Merasa berilmu pun telah merupakan bentuk penegasan baru tentang kebodohan kita.”

“Jika kau butuh sahabat, anakku, cukuplah kau puas dengan orang-orang sederhana saja sebagai sahabatmu. Sepanjang orang itu sanggup mengilhamimu agar tidak ragu untuk tidur jika mengantuk, makan jika lapar, dan tertawa jika geli, maka cukuplah ia sahabat bagimu. Cukuplah, anakku. Cukuplah jika sahabatmu itu mengajarimu untuk berani menjadi manusia yang wajar dan semestinya.”

“Jika kau berguru, anakku, jangan kau meminta guru yang dapat mengajarimu punya kemampuan terbang dan menghilang. Cukuplah bagimu jika sang guru mau membimbingmu untuk belajar menyingkirkan batu di jalanan, rela pada keberuntungan orang lain, sabar atas kemalangan diri sendiri, senang melihat tetangga punya barang baru, mencintai anak-anak, dan menyayangi hewan.”

“Dari gurumu itu, anakku, janganlah kau mengharap pelajaran apapun selain pelajaran merendahkan diri dan merendahkan hati, karena penyakit terbesar saat ini, dulu, dan masa yang akan datang, anakku, adalah perasaan bahwa kita ini ada, penting dan besar. Dengan kebesaran itulah orang lain sering kita lihat kecil. Karena kepentingan itulah, orang lain jadi terasa remeh. Karena keberadaan itulah, orang lain jadi seperti tidak ada. Maka jika kita tidak dibesarkan dan dipentingkan, maka susah lah hati kita.”

Berhenti bicara, dihisapnya lagi tembakau daun jagung. Di luar sedikit dingin. Lebih dingin pada musim seperti ini. Satu dua semut dan laron berkelahi di tikar pandan, diabaikannya saja, pun tak diolesinya lintingan tembakau daun jagung itu dengan minyak angin seperti biasa.

“Apa kau mendengar, anakku?” tanya ayah. Saya tidak langsung menjawab, sebab memperhatikan semut dan laron yang berkelahi itu.

“Iya, Ayah. Masih,” jawab saya kemudian. Senyap menghampiri kami. Saat saya memperhatikan wajah ayah, Nampak raut mukanya masih ganjil. Timbul perasaan asing, barangkali hanya bagi saya sendiri.

Dimulainya lagi berkata, “Jika manusia sedang kelihatan merendah, sesungguhnya itu karena sedang merasa tinggi. Jika manusia sedang mengecil, sesungguhnya karena manusia itu sedang merasa besar. Olah karena itu, saya pun dapat khusuk berzikir sambil memandang rendah dan hina orang lain yang kuanggap kekhusukannya tidak sama denganku. Jadi, anakku, perendahan dan pengecilan diri itu sesungguhnya tak lebih dari alat kesombongan kita semata.”

Berhenti. Senyap. Beberapa ekor laron telah tewas, tak lagi mengusik ujung jari untuk menjentikkannya menjauh. Gerombolan semut menggotong mayat-mayat laron ke sarang mereka, ke lorong-lorong sekitar tikar pandan.

“Apa kau mendengar, anakku?” tanya ayah sambil menghisap tembakaunya.

“Masih, Ayah,” balas saya memecah sunyi, sedikit lirih, takut kalau-kalau kepikunannya akan terusik dan ia lupa bercerita apa. Tentu saja, empat tahun semenjak ibu pergi, ayah seringkali lupa segala hal yang ingin diucapkannya. Ia bukan pelupa. Daya ingatnya sangat baik. Hanya saja, ia telah terbiasa punya seseorang yang mengingatkannya soal sesuatu, almarhum ibu.

“Anakku, di luar sangat dingin. Tidak terasa kah olehmu, nak?”

“Tidak, Ayah. Saya akan menunggui Ayah di sini bercerita. Sekejap lagi pagi,” jawab saya.

“Nah, anakku, jika ada seseorang yang memiliki kualitas kerendahan hati dalam arti yang sebenarnya, kepada merekalah kau seharusnya datang berguru,” lanjut ayah. Posisi duduknya tiba-tiba diubah, bersiap rebah.

***

Beberapa ekor laron tewas lagi di antara kesunyian setelah ayah selesai bicara kemudian memilih berbaring. Meski begitu, saya tahu matanya masih terbuka, dengan pandangan mengawang menatap dinding. Seekor laron terbang dan tumbang di ceruk telinga ayah. Tak ada dari kami berdua mengusik ujung jari untuk menjentikkan laron itu menjauh. Para semut menggotong mayat laron-laron yang lain. Barangkali menjadi santapan saat pagi datang sebentar lagi. Menyisakan remah-remah sayap yang akan disapu ayah dengan ujung sajadah. Itu sebelum salat subuh. Selalu, semenjak ibu pergi dan ayah lebih suka tidur di atas tikar pandan teras rumah. Menunggu pagi, di antara sisa sayap laron pada musim seperti ini.

Makassar, 2004

Wahyu Sastra, lahir di Lombok Tengah, April 1982. Mulai mengenal dunia sastra sejak duduk di semester 2 Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Saat ini aktif di kegiatan konservasi alam di Portir Indonesia Internasional. Menulis di laman sosial dan beberapa blog.