Wisman Mulai Pesan Kamar Hotel di Senggigi

Suasana salah satu hotel di kawasan Senggigi. Kamis (07/10/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur’ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) -Calon wisatawan mancanegara (wisman) mulai melakukan pemesanan kamar di hotel kawasan Senggigi. Dibukanya penerbangan internasional menuju Bali pada 14 Oktober mendatang diperkirakan menjadi salah satu pemicu peningkatan permintaan kamar hotel tersebut.

“Bookingan dari luar (mancanegara) sudah ada, itu yang sifatnya grup series. Ada yang dari Jerman, Belanda dan Skandinavia,” ungkap ketua Asosiasi Hotel Senggigi (AHS), I ketut M Jaya Kusuma saat ditemui di Holiday In Resort, Kamis (7/10).

Kendati demikian, bookingan kamar dari wisman untuk saat ini diakuinya masih bersifat tentatif. Karena para wisataan itu masih memantau situasi dan kondisi kawasan yang akan dikunjungi.

“Apalgi kita di Lombok ini termasuk dalam destinasi yang sangat dinantikan wisatawan luar” ujarnya.

Ketut memastikan seluruh hotel di kawasan Senggigi sudah berbenah. Terutama untuk memastikan sarana dan prasarana yang dimiliki berfungsi dan dapat digunakan dengan baik. Termasuk kesiapan kamar hotel, restoran, bar, hingga pegawai.

Jumlah kamar hotel di Senggigi sendiri tercatat mencapai 2.000 kamar. Baik dari hotel berbintang maupun non-bintang. Jumlah tersebut didapatkan dari 95 persen hotel di kawasan itu yang sudah mulai beroperasi.

“Kita akan tetap menerapkan apliaksi peduli lindungi bagi wisatawan. Jadi otomatis kita bisa pastikan mereka sudah tervaksin karena dideteksi dengan barcode,” jelasnya.

Untuk saat ini, diakui Ketut, pesanan kamar hotel di Senggigi sudah pada kisaran 35 – 40 persen. Terutama pada akhir pekan, yang didukung juga dengan berbagai event yang diselenggarakan oleh Dispar Lobar.

Namun terkait adanya kebijakan wisman diwajibkan untuk isolasi mandiri selama delapan hari setelah tiba di Indonesia. Senggigi diakui belum menyiapkan hotel khusus untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut.

“Kalau sekarang ini di Senggigi kita belum siapkan. Karena kebijakan itu hanya berlaku di entry point, seperti di Bali, yang wajib menyiapkan” sebutnya.

Tetapi di satu sisi, pihaknya berharap kebijakan itu dapat dievaluasi kembali oleh pemerintah. Lantaran dinilai memberatkan bagi wisatawan.

“Di industri (pariwisata) ini harapannya ya tanpa isoman. Karena pas mereka akan berangkat kan sudah dipastikan negatif, dan setelah tiba di entry point mereka akan dicek lagi untuk dipastikan negatif” ujarnya.