28.5 C
Mataram
Kamis, 29 Januari 2026
BerandaDaerahNTBDewan Puji Masa 100 Hari Kerja Iqbal-Dinda

Dewan Puji Masa 100 Hari Kerja Iqbal-Dinda

Mataram (Inside Lombok) – Anggota DPRD NTB, Muhammad Aminurlah menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja 100 hari pertama duet kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal dan Dinda Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda). Pujian ini diungkapkan dalam acara “Mimbar Bebas 100 Hari Iqbal-Dinda” yang digagas oleh Pojok NTB dan M16 di Tuwa Kawa, Senin malam (1/06).

“Pak Iqbal dan Bu Dinda sudah menyusuri wilayah dari Sape sampai Ampenan. Mereka hadir dalam berbagai peristiwa, baik bencana alam maupun persoalan sosial,” ucapnya. Ia mencontohkan kehadiran langsung Iqbal-Dinda saat memberikan bantuan darurat untuk korban banjir di Ambalawi, Wera, dan Lambu, Kabupaten Bima. “Dalam seratus hari ini, mereka sudah menunjukkan kerja yang cukup maksimal,” tambahnya.

Politikus PAN yang akrab disapa Maman ini menilai pasangan Iqbal-Dinda telah bekerja dengan semangat tinggi, termasuk menjalin komunikasi lintas kementerian demi kemajuan NTB melalui visi “NTB Makmur Mendunia.” “Sebagai politisi, saya melihat langkah mereka luar biasa. Tidak mungkin NTB bisa berkembang hanya mengandalkan APBD,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya memprioritaskan program strategis daerah, seperti pengentasan kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan penguatan sektor pariwisata. “Sering saya sampaikan, termasuk lewat media, bahwa dukungan APBD terhadap program prioritas Iqbal-Dinda masih sangat terbatas,” ujarnya.

Dalam aspek pemerintahan, Bang Maman mengingatkan agar birokrasi ditata ulang, mengingat masih ada banyak persoalan yang diwariskan dari kepemimpinan sebelumnya. Salah satu hal yang disorot adalah proyek fisik DAK di bidang pendidikan. Banyak pembangunan sekolah yang belum tuntas. “Ini harus menjadi perhatian serius bagi Iqbal-Dinda,” tandasnya.

Ia juga menyoroti perlunya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan membuka ruang diskusi terkait bonus demografi. “Setiap tahun ribuan sarjana dilahirkan perguruan tinggi. Tapi diskusi soal bonus demografi masih minim. Apakah ini potensi atau justru ancaman, ini perlu dicermati,” tutupnya. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer