25.5 C
Mataram
Kamis, 5 Februari 2026
BerandaDaerahNTBKetahanan Pangan dan Hortikultura Lokal di Nusa Tenggara Barat: Dari Pekarangan ke...

Ketahanan Pangan dan Hortikultura Lokal di Nusa Tenggara Barat: Dari Pekarangan ke Pasar, Jalan Panjang Menuju Kemandirian

Mataram (Inside Lombok) – Di sebuah pekarangan sempit di pinggiran Mataram, emak-emak menata polybag berisi kangkung, cabai, dan tomat. Pagi itu, sinar matahari menyusup lewat daun kelapa, membasuh tanaman yang masih berembun; tangan-tangan yang dulu lebih banyak bekerja di dapur kini juga sibuk di halaman rumah: menyiram, menyiangi, memetik. Bagi mereka, hortikultura bukan sekadar sumber gizi – ia menjadi cara hidup baru setelah guncangan iklim, fluktuasi harga, dan disrupsi pasokan yang silih berganti.

Di balik kebiasaan kecil yang tumbuh dari pekarangan-pekarangan itu, ketahanan pangan di Nusa Tenggara Barat (NTB) perlahan menemukan napas baru. Penguatan sektor hortikultura dengan produksi sayur, buah, dan tanaman biofarmaka yang tersebar di Lombok dan Sumbawa – di tengah tekanan perubahan iklim, inflasi pangan, dan kebutuhan gizi yang meningkat – kian diposisikan sebagai strategi penting pemerintah daerah untuk menjaga ketersediaan dan keberagaman pangan.

Pekarangan rumah ikut menjadi ruang produksi. Dari tanaman sederhana seperti kangkung, cabai, hingga tomat, rumah tangga di NTB mulai mengembangkan pola bercocok tanam mandiri yang didorong program pemerintah, penyuluh pertanian, dan komunitas lokal. Masing-masing berupaya memperkenalkan praktik budidaya yang mudah, murah, dan efektif untuk memperkuat cadangan pangan keluarga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB dalam publikasi Statistics of Horticultural Crop Production Provinsi NTB 2024 menunjukkan perkembangan signifikan pada luas panen, produksi, dan hasil per hektare dari berbagai komoditas hortikultura. Sementara data historis BPS 2015 menampilkan keragaman produksi lokal – dari cabai, melon, semangka, pepaya, jeruk, nangka, hingga mangga – yang tersebar merata di kabupaten/kota. Pada saat bersamaan, Nilai Tukar Petani (NTP) hortikultura turut memberikan gambaran kesejahteraan pelaku sektor ini. BPS NTB mencatat NTP provinsi pada Januari 2024 mencapai 125,04, tumbuh 1,81 persen dibanding bulan sebelumnya. Dalam subsektor hortikultura, NTP berada di angka 158,39, menunjukkan posisi yang relatif kuat di antara subsektor pertanian lainnya.

Dalam berbagai pernyataan publik, pemerintah daerah menegaskan bahwa penguatan hortikultura akan terus menjadi bagian dari upaya memperkokoh ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di NTB.

Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri saat ikut panen cabai di green house Lombok Timur. (Inside Lombok/Azmah)

Pekarangan: Laboratorium Ketahanan Keluarga

Program pemanfaatan pekarangan terus diperluas di NTB sebagai upaya membangun ketahanan pangan keluarga dari akar rumput. Melalui dukungan pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga komunitas warga, hortikultura skala rumah tangga diarahkan untuk menyediakan sumber pangan segar sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.

Di Kota Mataram, Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) memberikan modal, pelatihan, serta pendampingan bagi kelompok masyarakat untuk memaksimalkan fungsi pekarangan. Upaya ini bukan hanya mempersingkat rantai pasok, tetapi juga menambah variasi gizi keluarga dan mengurangi pengeluaran harian.

Di wilayah lain, seperti Desa Lantan di Lombok Tengah, pendampingan budidaya hortikultura dilakukan melalui kolaborasi mahasiswa dan Dinas Pertanian. Program semacam ini mendorong warga menanam komoditas bergizi penting, menambah pasokan lokal, sekaligus menekan ketergantungan pada produk komersial.

Pengalaman banyak keluarga memperlihatkan bahwa pekarangan dapat berkembang menjadi kegiatan produktif. Ada yang memulai sekadar untuk konsumsi pribadi, lalu perlahan menjual ke tetangga; ada pula kelompok tani yang berhasil mengembangkan rumah bibit dan memperbaiki teknik budidaya. Dukungan berupa penyediaan polybag, kompos, hingga pelatihan pengendalian hama terpadu, turut meningkatkan produktivitas di tingkat keluarga.

Hortikultura menjadi penopang penting ketahanan pangan karena menyediakan vitamin, mineral, dan antioksidan yang dibutuhkan masyarakat. Dengan semakin banyak rumah tangga yang memanfaatkan pekarangan, kemandirian pangan keluarga di berbagai wilayah NTB diharapkan dapat terus menguat.

Sosialisasi budidaya tanaman hortikultura di pekarangan rumah untuk warga Desa Lantan. (Inside Lombok/Ist)

Hortikultura Komoditas dan Diversitas Lokal

Hortikultura menjadi salah satu pilar yang memperkuat ketahanan pangan NTB melalui diversifikasi dan stabilitas pasokan. Di tengah naik turunnya produksi pangan pokok serta tekanan inflasi, penguatan produksi sayuran, buah, dan tanaman biofarmaka semakin strategis untuk menjaga ketersediaan gizi dan mendukung ekonomi daerah.

Di Sumbawa, sejumlah studi akademis menegaskan keragaman komoditas hortikultura lokal yang memiliki potensi besar untuk menopang ketahanan pangan. Sayur, buah, dan biofarmaka dinilai strategis untuk diversifikasi konsumsi sekaligus penguatan ekonomi, terutama jika dibarengi investasi pada riset varietas, penanganan pascapanen, dan pengembangan jaringan pasar.

Data statistik hortikultura yang diterbitkan secara berkala menjadi kompas penting bagi pemerintah dan pelaku usaha. Informasi tentang luas panen, produksi, dan produktivitas menunjukkan pola dan kelemahan sektor ini, termasuk kenyataan bahwa peningkatan produksi musiman sering tak diikuti ketersediaan pasokan saat panen menurun. Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas produksi agar pasokan tetap stabil sepanjang tahun.

Upaya menjaga pasokan pangan juga dilakukan melalui kebijakan stabilisasi. Bulog Kanwil NTB mencatat serapan gabah setara beras mencapai 34.755 ton hingga 6 April 2025 melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang ditujukan menjaga ketersediaan beras lokal sebagai komoditas pokok penyumbang inflasi pangan.

Pemerintah provinsi melalui Dinas Ketahanan Pangan NTB pun melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga harga dan ketersediaan pangan pokok. Meski fokus utama program ini adalah komoditas dasar seperti beras, keberadaan hortikultura berperan sebagai penyangga ketika pasokan pokok melemah.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap ketahanan pangan NTB dapat menguat melalui sinergi antara produksi pangan pokok dan hortikultura yang berkelanjutan.

Pasar dan Harapan Baru

Rantai pemasaran hortikultura di NTB umumnya melibatkan tengkulak, pedagang grosir, dan pasar tradisional. Model ini mempercepat distribusi, tetapi kerap membuat harga di tingkat petani kurang menguntungkan. Karena itu, berbagai proyek lokal mulai menguji pembaruan kelembagaan – mulai dari contract farming bersama agregator hingga digitalisasi rantai pasok berbasis blockchain – yang bertujuan meningkatkan transparansi serta memastikan pembayaran yang lebih adil.

Hortikultura juga dipandang mampu meredam tekanan inflasi pangan ketika pasokan nasional terganggu. Bulog Kanwil NTB melalui SPHP telah menyerap gabah dan beras lokal hingga 34.755 ton per 6 April 2025, dari target 122.048 ton. Pemerintah provinsi melalui GPM terus menjaga stabilitas harga pangan pokok, sementara hortikultura lokal berfungsi sebagai pelengkap ketika pasokan beras terganggu.

Sektor ini juga diarahkan ke arah komoditas industri dengan menghubungkan produksi hortikultura dengan pariwisata dan pengolahan. Industri pengolahan pertanian tercatat menjadi salah satu penopang pemulihan ekonomi NTB dan diproyeksikan mendorong hilirisasi komoditas hortikultura. Pemerintah daerah bahkan mencanangkan kawasan agrowisata hortikultura di Rembiga, Kota Mataram, seluas 1,3 hektare sebagai pusat edukasi gizi dan pertanian terpadu.

Akses pasar petani diperluas melalui penguatan asosiasi dan korporatisasi kelompok tani. Pembelian langsung oleh hotel, restoran, dan ritel modern mulai berjalan di beberapa wilayah, termasuk kawasan wisata Sembalun yang memadukan agrowisata dan hortikultura sebagai daya tarik ekonomi lokal.

Di sisi lain, munculnya petani muda menjadi warna baru dalam perkembangan hortikultura NTB. Mereka memanfaatkan teknologi seperti hidroponik, greenhouse sederhana, serta aplikasi pengelolaan usaha tani untuk meningkatkan produktivitas dan menerapkan praktik berkelanjutan. Pemerintah dan sektor swasta diharapkan memperbesar dukungan pelatihan dan akses pembiayaan bagi kelompok ini agar usaha hortikultura bernilai tambah dapat terus berkembang.

Dari Pangan ke Ekonomi Hijau, Ketahanan yang Berkelanjutan

NTB memiliki peluang besar untuk membangun rantai nilai hortikultura yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok pasar regional dan spesialis. Pemerintah daerah dapat menjadi katalis melalui kebijakan insentif, penyediaan data yang akurat, dan kolaborasi erat antara petani, akademisi, sektor swasta, dan komunitas.

Penguatan ketahanan pangan melalui hortikultura tidak hanya berbicara tentang perluasan lahan, tetapi tentang membangun sistem dari hulu ke hilir: penyediaan benih, pengelolaan air, perbaikan infrastruktur pasar, hingga transfer pengetahuan antar-generasi. Berbagai inisiatif lokal memperlihatkan terjadinya perubahan nyata di tingkat keluarga dan petani, termasuk meningkatnya minat generasi muda mengembangkan usaha hortikultura.

Data produksi dan tingginya NTP hortikultura menunjukkan sektor ini mampu menjadi penopang ketahanan pangan daerah. Program berbasis rumah tangga – seperti pemanfaatan pekarangan dan gerakan menanam komoditas hortikultura – memperluas akses terhadap pangan bergizi, sementara tantangan seperti minimnya fasilitas pascapanen, lemahnya kelembagaan petani, kurangnya penyuluh, serta ancaman perubahan iklim masih menghantui perkembangan sektor ini.

Rantai nilai hortikultura NTB juga diarahkan memenuhi kebutuhan industri pariwisata dan pengolahan. Komoditas seperti rempah premium, vanila, kopi robusta, hingga sayuran organik kian penting untuk memperkuat daya saing daerah. Perdagangan yang lebih adil dan akses pasar yang lebih jelas menjadi bagian dari strategi menaikkan posisi tawar petani.

Pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan disebut perlu menerapkan strategi sinergis berbasis inovasi, investasi terarah, dan penguatan kelembagaan petani untuk memaksimalkan potensi hortikultura. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu membangun fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat NTB.

- Advertisement -

Berita Populer