Mataram (Inside Lombok) – PT Angkasa Pura masih tetap membuka kesempatan kepada investor yang ingin menanamkan investasi di kawasan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Praya. Lahan di kawasan tersebut masih banyak kosong dan membutuhkan adanya investor yang menanamkan investasinya.
Stakeholder Department Head Bandara Internasional Lombok, Arif Haryanto mengatakan luas lahan kawasan bandara yaitu 500 hektare. Dari luas lahan ini masih banyak kawasan yang belum ada pembangunan. “Kita undang pemerintah dan juga investor. Ini hotel cuma satu biji sejak tahun berapa ini,” katanya belum lama ini.
Ia mengatakan, dalam rencana awal jumlah lahan yang disiapkan lebih besar dari yang dibutuhkan. Hal ini untuk mengantisipasi perkembangan jangka panjang seperti jumlah trafik meningkat, armada meningkat dan hal lainnya. “Kita untuk menjaga di masa depan,” katanya.
Dari luas lahan 500 hektare yang ada, baru digunakan sekitar 250 hektare. Sisa lahan yang ada saat ini dibuka untuk para investor yang ingin menanamkan investasinya. “Kami lebih mengharapkan ada partisipasi dari perusahaan swasta, BUMN, investor atau pemerintah yang bisa bersama-sama untuk mengembangkan kawasan disini,” katanya.
Luas lahan bandara ini hampir sama dengan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Namun pembangunan di bandara Yogyakarta sudah lebih masif jika dibandingkan dengan yang di Lombok. “Sekitar bandara Jogja jaraknya sama dengan kota. Hotel sudah empat atau lima disana, ada rumah sakit internasional. Jadi memang agak berbeda dengan di Lombok yang sudah sejak tahun 2011 bandaranya disini jika dibandingkan dengan Jogja yang baru 2019,” ungkapnya.
Keberadaan sirkuit MotoGP di Mandalika Lombok Tengah diharapkan menjadi daya tarik investor untuk membangun hotel di kawasan bandara. Hanya saja, sejak beberapa tahun sirkuit sudah terbangun, belum ada investor yang masuk untuk menanamkan investasinya di kawasan bandara. “Perlu ada triger ya. Sudah dibangun sirkuit mandalika, hotel juga bisa dibangun disini. Tapi sampai sekarang investor mungkin masih melirik,” katanya.
Masih minimnya investor yang mau menanamkan modalnya di kawasan bandar ada beberapa faktor salah satunya jumlah penerabangan yang masih minim jika dibandingkan dengan bandara lain yang berstatus internasional di Indonesia.
Untuk penerbangan internasional, saat ini hanya ada dua destinasi yakni tujuan Kuala Lumpur (KUL) yang dilayani oleh maskapai Indonesia AirAsia (QZ), AirAsia Berhad (AK), dan Batik Air Malaysia (OD) serta tujuan Singapura yang dilayani oleh Scoot (TR). (azm)

