Mataram (Inside Lombok) – Kantor wilayah Perum Bulog NTB mencatat serapan gabah kering giling panen petani di NTB sampai dengan 27 April sebanyak 147.223 ton dari target yang ditetapkan sebesar 191.700 ton. Pencapaian ini merupakan angka yang fantastis, mencapai 134 persen dari target yang diamanahkan.
Pimwil Perum Bulog NTB, Sri Muniati menerangkan pihaknya melakukan serapan gabah dan beras dalam negeri pada tahun 2025 sebanyak 191.700 ton setara beras atau 51,11 persen dari target 179.600 ton setara beras. Untuk mencapai target gabah kering giling ini masih ada sisa waktu sampai dengan akhir April 2025.
“Kanwil bulog dan cabang sekanwil NTB akan terus melaksanakan serapan semaksimal mungkin untuk gabah kering panen, yang dihasilkan dari beberapa lahan yang masih ada panen akhir bulan ini,” ujarnya, Senin (28/4).
Optimisme membayangi upaya Bulog NTB untuk terus menambah pundi-pundi stok pangan daerah. Keberhasilan Bulog NTB dalam mencapai target serapan tidak lepas dari sinergi yang kuat dengan berbagai pihak, baik dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota se-NTB, serta Komando Resort Militer (Korem) 162/Wira Bhakti dan seluruh Komando Distrik Militer (Kodim) di seluruh NTB.
“Ada juga dukungan dari para Babinsa serta Danramil yang ada di setiap desa dan kecamatan sangat membantu Bulog dalam mendapatkan informasi rencana panen dan menindaklanjuti serapannya,” terangnya.
Tak hanya itu, peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di tingkat desa dan kecamatan juga dinilai sangat krusial dalam memberikan pendampingan kepada petani selama masa panen. Kolaborasi yang solid antara Bulog, TNI, pemerintah daerah, dan PPL menjadi fondasi kuat keberhasilan ini. Meskipun harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP masih tetap sebesar Rp6.500 per kilogram dan beras Rp12.000 per kilogram, Bulog NTB mampu menunjukkan kinerja yang gemilang.
Saat ini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikuasai oleh Kanwil Bulog NTB mencapai 105 ribu ton setara beras. Jumlah ini dinilai sangat memadai untuk mengantisipasi kebutuhan penyaluran sewaktu-waktu jika pemerintah memberikan penugasan.
“Apabila sewaktu-waktu pemerintah memberikan tugas penyaluran, kami siap melaksanakannya. Berasnya sendiri berkualitas terbaik, hasil pengolahan dari mitra-mitra se-NTB,” ungkapnya.
Sementara itu, menanggapi perihal harga beras medium di pasaran yang saat ini berada di kisaran Rp13.000 per kilogram, sedikit di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah sebesar Rp12.500 per kilogram. Menurutnya, selisih harga ini kemungkinan disebabkan oleh biaya kemasan dan faktor lain dalam rantai distribusi di pasar umum.
“Namun, kondisi masih cukup terkendali dan panen masih banyak. Yang terpenting, Bulog masih terus melakukan penyerapan, dan kami berharap program ini terus berlanjut,” demikian. (dpi)

