Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan mengembangkan permainan tradisional anak sebagai bagian dari warisan budaya. Hal ini ditegaskan oleh Ketua TP PKK NTB, Sinta Agathia, saat menemani Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo dalam arangka menghadiri FORNAS VIII 2025.
Bunda Sinta menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kebudayaan, terhadap pelestarian budaya lokal di NTB. Ia menilai momen FORNAS sangat tepat untuk kembali mengangkat permainan tradisional yang mulai dilupakan.
“Kami melihat ini sebagai momentum emas untuk menghidupkan kembali warisan budaya yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial yang kini dihadapi generasi muda. Di akhir sambutannya, ia mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari Giring dan istri.
Sementara itu, dalam arahannya, Giring menyatakan bahwa budaya harus tampil sebagai identitas utama bangsa. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap NTB, terutama atas kemajuan yang dicapai di bawah kepemimpinan Gubernur, Wakil Gubernur, dan Ketua TP PKK NTB. “NTB punya potensi besar untuk dikenal dunia dan meraih kesejahteraan lebih luas. Kementerian Kebudayaan siap bersinergi untuk mendukung,” katanya.
Giring juga menyoroti sejarah baru dalam kabinet, yakni berdirinya Kementerian Kebudayaan sebagai institusi mandiri setelah 79 tahun Indonesia merdeka, yang ia sebut sebagai terobosan besar dari Presiden Prabowo Subianto. “Langkah ini menunjukkan betapa Presiden menaruh perhatian besar terhadap budaya. Ia ingin agar kebudayaan terus dijaga, diberdayakan, dan dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Presiden berpesan agar sektor kebudayaan menjadi ujung tombak kemajuan bangsa. Museum, galeri, festival seni, sanggar, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya harus tampil sebagai garda terdepan dalam narasi kemajuan Indonesia. Menutup arahannya, Giring berharap agar gelaran seperti FORNAS dapat diperluas menjadi program tahunan berskala nasional yang mampu memperkuat posisi permainan tradisional dalam kehidupan masyarakat.
“Permainan tradisional adalah bagian dari ingatan kolektif kita, dan sudah semestinya tetap hidup di hati setiap generasi,” tutupnya. (gil)

