Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memastikan penyaluran Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, Abdul Aziz menyampaikan bahwa NTB telah masuk dalam zona satu untuk penyaluran beras SPHP.
Diperkirakan, penyaluran bantuan beras ini akan berlangsung sebelum Hari Raya Idulfitri. “NTB termasuk dalam zona satu. Dalam waktu dekat, beras SPHP untuk zona satu akan segera disalurkan,” kata Abdul Aziz, Selasa (11/3).
Zona satu ini mencakup wilayah dengan hasil produksi pertanian yang tinggi atau dianggap sebagai lumbung pangan nasional. Selain NTB, beberapa daerah lain seperti Jawa juga berada dalam zona satu. “NTB telah diakui sebagai daerah dengan hasil pangan yang melimpah, sehingga kami masuk dalam zona satu, sementara zona dua dan tiga sudah lebih dahulu disalurkan,” lanjutnya.
Kendati penyaluran beras SPHP akan segera dilakukan, Abdul Aziz memastikan bahwa hal ini tidak akan mempengaruhi harga pangan secara signifikan. Meskipun NTB diperkirakan akan mengalami panen raya pada bulan April mendatang.
Abdul Aziz juga menilai penarikan beras subsidi dari pasar tidak berpengaruh besar terhadap harga pangan di NTB. Ia mengungkapkan, faktor utama yang mempengaruhi harga beras adalah kenaikan harga bahan baku, yang kini mencapai Rp6.500 per kilogram. Hal ini mendorong para pengusaha untuk menyesuaikan harga jual mereka.
“Bukan hanya karena penarikan beras SPHP, tetapi harga bahan baku yang naik hingga Rp6.500 juga berdampak pada harga jual beras. Pemerintah sedang berusaha menciptakan keseimbangan harga agar petani tetap bisa mendapatkan keuntungan yang wajar,” tambahnya.
Abdul Aziz juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan harga. Harga beras yang terlalu rendah dapat mengurangi minat petani untuk terus menanam, sementara harga yang terlalu tinggi dapat membebani konsumen.
Untuk stok beras selama bulan Ramadan, Abdul Aziz memastikan bahwa pasokan beras di NTB cukup aman. Saat ini, cadangan beras yang dikelola oleh Bulog tercatat sebanyak 20 ribu ton, dengan cadangan beras daerah mencapai 97 ton, dan gabungan cadangan beras dari kabupaten/kota sekitar 270 ton. “Stok beras kita aman hingga Lebaran, bahkan sampai setelah panen raya usai Ramadan,” ucap Abdul Aziz.
Selain itu, Pemprov NTB juga akan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 14 kali sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, tujuh kali akan didanai oleh APBN dan tujuh kali lagi oleh APBD. “Jadi, kami akan terus memastikan distribusi pangan murah bagi masyarakat dengan bekerjasama antara pemerintah pusat dan daerah,” tutupnya. (gil)

