Lombok Tengah (Inside Lombok)- PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berkomitmen mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 25 persen pada tahun 2034, sesuai yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Saat ini, komposisi EBT di NTB telah mencapai lebih dari 5 persen.
General Manager PLN Wilayah NTB, Sri Heni Purwanti, menjelaskan bahwa untuk mencapai target tersebut, porsi terbesar akan diisi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
“Kalau RUPTL sampai dengan 2034 kita harus memiliki komposisi kurang lebih sebesar 25 persen adalah EBT. Sekarang sudah 5 persen, pastinya ada penambahan sesuai RUPTL, karena porsi terbanyak adalah PLTS dan PLTMH,” ungkapnya, Kamis (16/10).
Untuk merealisasikan target 25 persen EBT, PLN menegaskan peluang investasi di NTB sangat terbuka lebar, meskipun prosesnya harus melalui skema lelang. Ia menekankan, ketetapan target EBT ini merupakan tanggung jawab yang wajib dieksekusi, karena sudah tertuang dalam RUPTL dan harus diimplementasikan dalam Rencana Anggaran Kerja Perusahaan (RAKP).
“Itu sudah ada ketetapan dari Kementerian ESDM yang tertuang di RUPTL, itu harus kita eksekusi. Itu sebuah tanggung jawab kita untuk memastikan di tahun 2034 bisa tercapai 25 persen,” tegasnya
Ia merincikan, kontribusi EBT terbesar di NTB saat ini berasal dari PLTS dengan total kapasitas terpasang sebesar 22 Megawatt (MW). “EBT dari PLTS sudah ada 22 MW. Total daya kita itu 400-an, jadi ini sekitar 5 persen lebih, sudah cukup besar di sini,” jelasnya.
Tiga PLTS terbesar yang menjadi tulang punggung EBT di NTB berlokasi di Sengkol, Sembelia, dan Priggabaya. Secara khusus, PLTS di Sengkol memiliki kapasitas 7 MW dan turut menjadi salah satu penopang sistem kelistrikan di kawasan pariwisata Mandalika, termasuk saat event besar seperti MotoGP.
“Semua pembangkit kita masukkan dalam sistem besar, kemudian kita gunakan, salah satunya pasti dari PLTS. Termasuk yang digunakan untuk MotoGP kemarin,” tambahnya.
Sementara itu, terkait isu cadangan daya, Sri menjamin sistem kelistrikan NTB saat ini dalam kondisi aman. Dengan daya mampu pasok mencapai 401 MW dan beban puncak pelanggan 360 MW, terdapat sisa daya cadangan (reserve margin) sekitar 40 MW.
“Di PLN itu ada konsep N-1. Pembangkitan terbesar di kita berapa 25 MW. Artinya, kalau pembangkit yang besar itu ada gangguan, masih ada cadangannya, masih aman,” paparnya.
Selain menghasilkan energi bersih, keberadaan PLTS di Sengkol juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. “Kalau untuk masyarakat, banyak tenaga kerja yang kita libatkan di sini, mulai dari proses pembangunan sampai pengoperasiannya. Ada juga beberapa CSR yang sudah dilaksanakan, yang pastinya di sini dalam rangka mengurangi reduksi karbon,” demikian. (dpi)

