Lombok Utara (Inside Lombok)- Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) asal Lombok Utara yang ingin bekerja di luar negeri cukup banyak, Malaysia menjadi tujuan utama. Padahal ada negara lain yang menyediakan lowongan, mulai dari tenaga kesehatan dan tukang las, seperti ke Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. Sayangnya, minat untuk bekerja di sana tidak ada, karena terkendala bahasa asal negara tujuan belum dikuasai.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (NAKER-PMPTSP) Lombok Utara, Evi Winarni, mengatakan untuk penempatan PMI keluar negeri, khususnya ke Negara Eropa ada untuk Government to Government dan Government to Private (pihak swasta). Baru-baru ini dari rapat yang diikutinya, permintaan untuk sekarang ini adalah Government to Government ke Jerman, khusus untuk tenaga kesehatan, tentu kualifikasi yang paling utama harus menguasai bahasa Jerman dan Inggris “Untuk bahasa inggrisnya itu tidak lagi menggunakan TOEFL tapi IELTS, itulah tantangan terbesar kita sekarang ini, bagaimana kita mengupayakan agar tenaga kerja tenaga kerja atau CPMI itu menguasai minimal bahasa inggris,” ujarnya, Jumat (1/8).
Kemudian, ada magang ke Jepang. Sayangnya, Lombok Utara belum bisa memenuhi permintaan tersebut . Di mana baru ada dua orang yang berhasil magang ke sana, begitu juga tahun sebelumnya, karena kendala utamanya adalah bahasa. Bahkan dari Korea Selatan juga membuka peluang kerja bagi CPMI Lombok Utara. “Kita beberapa waktu lalu dikunjungi oleh salah satu walikota Korsel yang ingin agar pekerja bisa masuk ke sana. Setelah kami lihat di BP3MI, memang ada slot untuk ke negara Asia. Kemudian ke Eropa dan ada beberapa yang ke negara Arab, tetapi itu tadi, kompetensi CPMI itu yang masih perlu kita tingkatkan,” terangnya.
Evi menyebutkan, untuk meningkatkan kompetensi para CPMI, terutama soal bahasa, Pihaknya sudah bertemu dengan Bupati Lombok Utara; agar bahasa Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan beberapa bahasa dari negara lainnya bisa masuk di kurikulum SMK. “Kalau seandainya BLK itu belum siap, kita dorong SMK bagaimana agar kurikulumnya sebagian ada bahasa jepang, Jerman, atau pun Korea. Karena sekarang negara-negara itu yang membuka ruang untuk didatangi,” jelasnya.
Diakui untuk peminatnya, justru tidak ada yang ke negara-negara tersebut, karena melihat kondisi dari CPMI itu sendiri yang tidak menguasai bahasa. Bahkan ada yang beranggapan prosedurnya terlalu rumit, mengingat kualifikasinya cukup ketat. “Jadi tidak ada yang minat ke sana. Inilah kenapa kita ingin agar ada animo masyarakat untuk keluar negeri dengan cara legal, nyaman, aman dan paling penting adalah kita menguasai bahasa yang mereka kuasai, kemudian kompetensinya sesuai,” demikian jelasnya.

