Mataram (Inside Lombok) – Upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di kawasan pesisir wilayah NTB terus dilakukan, antara lain dengan dengan mengoptimalisasi sektor kelautan dan perikanan. Terlebih sektor tersebut yang menjadi kekayaan melimpah NTB.
Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB, Willgo Zainar menyebutkan NTB memiliki sumber daya alam laut yang luar biasa. Potensi ini bisa jadi modal utama untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, memberantas stunting, mendukung kedaulatan pangan, hingga memperkuat daya saing bangsa. Terlebih, jika daerah berhasil mengoptimalkan pengelolaan blue economy, baik perikanan budidaya maupun tangkap, pengembangan aneka komoditas unggulan NTB.
“NTB ini punya komoditas unggul seperti rumput laut, udang vaname, kepiting, lobster, dan aneka jenis ikan dan kerang-kerangan,” ujarnya saat diskusi khusus terkait potensi kelautan dan perikanan di NTB yang diselenggarakan HKTI NTB, Selasa (3/6).
Menurutnya dengan banyaknya aneka komoditas unggul NTB yang bisa dimanfaatkan, maka akan tersedia sumber pangan bergizi tinggi yang berkelanjutan, sumber pendapatan yang berkesinambungan. “Untuk mewujudkan ambisi ini, kami diskusi mendalam dengan menghadirkan para pakar blue economy dan pembuat kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah,” jelasnya.
Bahkan dukungan kuat datang dari dunia akademisi, beberapa paparan disampaikan oleh dewan pakar HKTI NTB. Apalagi blue economy jika dapat lebih optimal memberikan dampak untuk kesejahteraan masyarakat. Ditambah dengan besarnya potensi pengembangan agro maritim NTB yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian daerah maupun nasional.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, berbicara kelautan hari ini, NTB masih terfokus pada rumput laut dan udang vaname, sisanya masih banyak lagi yang belum digarap. Diantaranya potensi ikan napoleon, ikan kerapu, nila, yang belum dibudidayakan, lobster juga budidayanya masih skala uji coba. Semua ini menurutnya butuh ekosistem.
“Kita harus menciptakan ekosistemnya. Dan insya Allah akan kita maksimalkan. Lebih dari 50 persen kemiskinan ekstrem itu ada di pesisir. Mulai dari Ampenan, Sekotong, Awang, sampai Sape, ini yang akan kita dorong,” ujarnya. (dpi)

