24.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaEkonomiKebijakan Perdagangan AS Bisa Pengaruhi Ekonomi NTB, Perlu Pengaturan Strategi

Kebijakan Perdagangan AS Bisa Pengaruhi Ekonomi NTB, Perlu Pengaturan Strategi

Mataram (Inside Lombok) – Beberapa bulan terakhir, kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan pengaruh cukup besar pada perekonomian global. Dampaknya pun disebut terasa, bahkan sampai ke NTB, mengingat provinsi ini memiliki beberapa produk yang diekspor langsung ke AS.

Pengamat Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram), Firmansyah menilai kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh AS harus diperhatikan dengan cermat. Apakah pengaruhnya besar atau tidak terhadap kondisi perekonomian di daerah.

“Tentu perlu dicek, NTB ekspor apa saja ke AS. Kalau tidak banyak, mungkin dampaknya tidak terlalu besar. Namun, perlu diwaspadai adalah dampak tidak langsung, seperti ekonomi negara lain yang terdampak oleh kebijakan AS, yang kemudian berpengaruh pada hubungan perdagangan NTB dengan negara tersebut,” ujarnya, Rabu (9/4).

Berdasarkan data yang ada, beberapa produk NTB yang diekspor ke AS di antaranya adalah tuna, vanila, dan perhiasan. Meskipun produk-produk ini memiliki kualitas yang sangat baik. Namun, skala ekspor NTB ke AS tidak terlalu besar, sehingga kemungkinannya tidak terlalu berpengaruh terhadap ekonomi di dalam daerah. Bahkan produk-produk NTB bisa dialihkan ke negara lain yang memiliki pasarnya tersendiri.

“Jika tarif atau kebijakan perdagangan AS lebih tinggi terhadap produk-produk ini, masih ada kemungkinan untuk mengalihkan pasar ekspor ke negara lain. Apalagi produk-produk ini, seperti tuna dan vanila, masih sangat diminati di pasar internasional,” terangnya.

Meskipun ekspor produk NTB ke AS tidak begitu signifikan, kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh AS terhadap barang-barang olahan atau produk jadi bisa menjadi tantangan. Sebab, negara seperti AS umumnya lebih tertarik pada produk-produk olahan dibandingkan bahan baku.

“Produk bahan baku, seperti hasil tambang atau komoditas mentah, mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh kebijakan tarif tinggi, karena AS sendiri tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku dari negara lain,” bebernya.

Lebih lanjut, di tengah ketidakpastian pasar ini, NTB masih memiliki potensi untuk menjajaki pasar alternatif. Untuk produk-produk NTB, seperti vanila, tuna, dan produk lainnya, selalu ada pasar alternatif. Namun, tentu ini membutuhkan kajian mendalam dari Dinas Perdagangan setempat.

Hal ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah daerah dalam melakukan riset pasar dan memfasilitasi akses produk NTB ke pasar internasional yang lebih luas. Dalam menghadapi situasi perdagangan yang dinamis dan potensi dampak dari kebijakan perdagangan global.

“Yang paling penting adalah terus mencermati pergerakan harga dan siap-siap untuk menghadapi inflasi atau deflasi. Selain itu, penting juga untuk terus berupaya menarik investor baru untuk mengisi ruang-ruang investasi di NTB,” ungkapnya.

Sementara itu, meskipun dampak langsung terhadap ekonomi NTB mungkin tidak terlalu terasa, namun kebijakan global seperti ini tetap memerlukan perhatian lebih. Pemerintah daerah perlu memantau dan menyesuaikan langkah-langkah ekonomi untuk memastikan stabilitas harga dan daya saing produk-produk NTB di pasar internasional.

Secara keseluruhan, meskipun kebijakan perdagangan AS tidak memberikan dampak langsung yang besar pada NTB, dampak tidak langsung yang terjadi akibat perubahan pasar global tetap perlu diwaspadai. “Maka dari itu, pemerintah daerah harus proaktif dalam mencari peluang pasar baru dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian perdagangan global,” demikian. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer